
Penulis: M Arkan Fawwaz Iswar
Forum Mahasiswa Rempung sukses menggelar Talkshow Virtual bertajuk “Global Citizenship dari timur Tengah : Membentuk pemimpin masa depan indonesia yang menghadirkan narasumber inspiratif dari berbagai universitas internasional. Acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran mahasiswa Indonesia di panggung global.
Kegiatan ini menghadirkan Ahmad Maulana dari Yarmouk University, Yordania, Muhammad Faishal H.R dari Universitas Al-Azhar Mesir, Muhammad Sheva Maulaya Zuhdi dari Universitas Az-Zaitunah Tunisia, Khairul Hamim dari Universitas Sidi Mohamed Ben Abdellah Maroko, serta Nabila Safiah Ramadani dari Anadolu University, Turki.
Sebagai keynote speaker, Prof. Dr. Muhammad Harfin Zuhdi, M.A., yang juga Kepala Unit Kewirausahaan dan Pengembangan Karir UIN Mataram, memberikan arahan penting tentang kepemimpinan masa depan yang berbasis inovasi, visi global, dan nilai etis yang kuat.
Talkshow ini dipandu oleh Marsa Suprianti, Duta Pendidikan Provinsi NTB, yang membawa diskusi berjalan dengan hangat dan penuh semangat. Kehadirannya memberikan warna tersendiri dalam dinamika acara ini.
Salah satu poin penting yang muncul dalam diskusi adalah bagaimana mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri mampu membawa perspektif global namun tetap berpegang pada nilai-nilai lokal seperti gotong royong, toleransi, dan integritas.
Ahmad Maulana menekankan pentingnya menjadi warga negara global yang berakar pada nilai-nilai Indonesia, sementara Muhammad Faishal mengingatkan kembali hubungan historis antara pendidikan Mesir dan Indonesia yang telah melahirkan tokoh-tokoh bangsa.
Muhammad Sheva dari Tunisia menyoroti pentingnya interaksi lintas budaya dan menyebut tokoh Ibnu Khaldun sebagai teladan dalam kepemimpinan. Ia mendorong generasi muda untuk terus membuka diri terhadap keberagaman dunia.
Nabila Safiah Ramadani dari Turki membagikan pengalamannya menembus zona nyaman dan berani mencoba hal baru, termasuk tantangan akademik dan budaya yang justru memperkaya proses belajar. Ia menekankan bahwa kegagalan adalah bagian dari perjalanan menuju keberhasilan.
Khairul Hamim menambahkan pentingnya kepemimpinan inklusif serta peran jaringan global mahasiswa Indonesia. Ia menceritakan pengalaman membangun jejaring melalui Persatuan Pelajar Indonesia di Maroko (PPIM) yang aktif memperkenalkan budaya Indonesia.
Talkshow ini juga menyinggung tantangan global seperti perkembangan teknologi, persaingan antar bangsa, hingga isu kemanusiaan. Para pembicara menegaskan bahwa mahasiswa Indonesia punya peran penting dalam merespons tantangan tersebut.
Antusiasme peserta semakin terasa karena acara ini juga diikuti mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Turki, Yordania, Mesir, Tunisia, Maroko, serta mahasiswa Indonesia dari berbagai kampus. Hal ini mencerminkan semangat kolaborasi lintas batas.
Kesimpulannya, Talkshow Formare ini bukan sekadar ruang diskusi, melainkan gerakan intelektual yang menegaskan kesiapan pemuda Indonesia menjadi pemimpin global dengan identitas yang kokoh dan wawasan yang tanpa batas.








