Oleh: Dr. Fauzan, M. Pd.
(Kadis kominfo Lombok Timur, pemerhati Pendidikan)
Kemampuan literasi murid tingkat sekolah dasar di Indonesia membutuhkan perhatian serius, diperlukan berbagai upaya agar dapat menjadi lebih baik melalui jalur pendidikan formal, informal, dan nonformal. Menyadari hal itu, pemerintah terlebih Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai leading sector pendidikan harus proaktif mengupayakan inovasi pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai ruang akselerasi bagi kemampuan literasi dan numerasi murid.
Dewasa ini, Indonesia sudah diperkenalkan dan memberlakukan Kurikulum Merdeka didukung pendekatan pembelajaran berdiferensiasi yang diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan mutu pembelajaran, dan muaranya ke peningkatan mutu pendidikan. IKM (Implementasi Kurikulum Merdeka) menghendaki agar peserta didik dapat mengembangkan kemampuannya semaksimal mungkin dalam ruang enjoy for learning. Sementara pembelajaran berdiferensiasi mengarahkan peserta didik untuk dapat belajar beragam ilmu pengetahuan secara tersistem, sehingga dalam satu materi pelajaran, wawasan pengetahuan peserta didik dapat terbuka lebar untuk beragam hal.
Pemberlakuan kedua hal tersebut dalam belajar, tentu harus terkoneksi serat dengan pendekatan pengajaran yang digunakan pendidik. Pendidik dituntut mampu menerapkan praktik diferensiasi pengajaran yang sesungguhnya sudah diterapkan oleh banyak negara (Amerika Serikat, Kenya, India, Chili, Bangladesh, dan sejumlah negara lainnya) dalam rangka meningkatkan hasil pembelajaran. Terlebih pada peserta didik dengan kemampuan akademik relatif rendah untuk mengejar ketertinggalannya dari peserta didik lainnya.
Diferensiasi pengajaran mengharuskan guru menjadi pendidik yang kreatif, dan inovatif dalam mengelola pembelajaran. Salah satunya dapat dilakukan dengan memilah dan memilih pendekatan dan metode pembelajaran cocok untuk diterapkan sesuai dengan karakteristik belajar peserta didik, terlebih yang terkait dengan kemampuan literasi, numerasi, dan pengetahuan sains.
Posisi kemampuan literasi, numerasi, dan pengetahuan sains siswa di Indonesia sudah terpetakan dari tahun 2000, sejak Indonesia dilibatkan dalam studi PISA (Programme for International Student Assessment) oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Hasil studi yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan membaca, berhitung, dan pengetahuan science siswa ini menempatkan Indonesia pada posisi ujung.
Kemampuan membaca siswa Indonesia tahun 2018, berada pada posisi 72 dari 77 negara. Hanya 30% siswa yang berusia 15 tahun dapat mencapai atau melampaui tingkat kompetensi minimal untuk membaca, sekitar 37,6% siswa hanya dapat membaca tanpa mampu menangkap maknanya, dan 24,8% dapat mengaitkan teks yang dibaca dengan informasi lainnya. Hal ini berarti bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia masih rendah (UNICEF, 2020).
Capaian ini tentu memprihatinkan berbagai kalangan, Kemendikbud menyimpulkan bahwa tingkat capaian siswa tersebut belum tepat atau tidak sesuai dengan capaian belajar yang diharapkan. Karenanya siswa harus dididik sesuai tingkat kemampuannya, dan pendekatan belajar yang mengacu ke arah tersebut adalah pendekatan TaRL (Teaching at the Right Level) (Kemendikbud, 2020). Pembelajaran TaRL mengacu kepada tingkatan kemampuan siswa, bukan tingkatan kelas dengan proses pembelajaran sesuai capaian pembelajaran, tingkat kemampuan, dan kebutuhan siswa serta bersifat student centered. Melalui pembelajaran ini, siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuannya, belajar berkelompok dengan guru pendamping yang berbeda, dan pendidik harus memantau capaian peserta didik secara terus menerus.
Sepanjang ini, banyak negara yang sudah mengadopsi pendekatan TaRL untuk mendukung upaya peningkatan kemampuan literasi, numerasi, dan hasil belajar secara umum. Penggunaan pendekatan TaRL sudah memberikan efek signifikan pada peningkatan hasil belajar di sebagian besar wilayah negara India, Amerika Serikat, Pakistan, Zambia, dan Chili (Lipovsek, 2023). Implementasi TaRL yang fokus ke literasi dan numerasi juga menunjukkan hassil yang sangat bagus, seperti di negara Nigeria berhasil membawa siswa meningkatkan sekitar 18 persen kompetensi literasinya (Nachandiya et al., 2022), dan India.
Beberapa sekolah di Indonesia yang menerapkan pendekatan TaRL juga sudah berhasil meningkatkan kemampuan literasi dasar pada siswa sekolah dasar pada kelas awal. Bahkan hingga mencapai 22,57% pada level huruf, 31,92% di level kata, 6,72% pada level paragraf, dan 9,24% pada level cerita (Syarifuddin et al., 2022). TaRL juga tidak spesifik untuk meningkatkan kemampuan literasi dalam bahasa Indonesia, tetapi dapat juga dalam bahasa Inggris, pengetahuan alam, dan pelajaran lainnya.
Nusa Tenggara Barat juga berhadapan dengan masalah rendahnya literasi dan numerasi siswa. Dari kegiatan diseminasi hasil survei yang dilakukan Tim Peneliti UMMAT, diketahui bahwa kemampuan literasi siswa sekolah dasar di daerah ini masih rendah. Dari keseluruhan responden di Kabupaten Lombok Tengah, hanya 24,22% yang capaian literasi intinya baik. Capaian di Kabupaten Lombok Timur pun tidak berbeda jauh, yang mencapai 26,93% untuk kelas rendah pada kemampuan literasi dasar dan 33,60% untuk literasi inti pada kelas tinggi (4, 5, dan-6).
Implementai pendekatan TaRL dibakukan dalam empat kegiatan utama secara bertahap, yaitu (1) melakukan assessment awal untuk mengetahui karakteristik, potensi, dan kebutuhan peserta didik, dapat menggunakan instrumen SLA (Students’ Language Assessment); (2) menyusun perencanaan proses pembelajaran yang sesuai, menyiapkan perangkat pembelajaran, metode, dan pengelompokan peserta didik; (3) pembelajaran yang dilakukan dengan menyampaikan materi pembelajaran sesuai dengan level kemampuan peserta didik, dan (4) melakukan assessment secara berkala untuk mengetahui perkembangan peserta didik. Skor tes dan tingkat keberhasilan dan kelancaran membaca menjadi parameter utama dalam pengukuran.
Tantangan yang berpotensi dihadapi pendidik dalam implementasi pendekatan TaRL pada pembelajaran adalah variatifnya kemampuan peserta didik menerima dan menguasai pelajaran. Beberapa peserta didik, mungkin membutuhkan waktu lebih lama dan pendampingan berulang untuk dapat menguasai satu materi pembahasan, sementara peserta didik lain dapat menguasainya dengan cepat. Hal ini dapat disikapi secara perlahan oleh pendidik, kepada peserta didik dengan daya serap agak lambat dapat diberikan remedial teaching. Sedangkan kepada murid yang lebih cepat menguasai materi pelajaran, dapat dipindahkan lebih awal ke level setingkat di atas level awal atau sesuai kemampuan yang dicapai. Artinya, murid tidak berpindah level secara serentak tetapi bertahap sesuai capaian kemampuan literasi yang diperoleh dalam setiap tahap pembelajaran.
Implementasi TaRL sesungguhnya bukan perkara sulit untuk diterapkan sebagai langkah konkrit pendidik dalam mempraktikkan diferensiasi pengajaran, sekaligus sebagai upaya peningkatan kemampuan literasi, numerasi, dan kemampuan sains siswa. Selain itu, pedekatan TaRL juga dapat digunakan sebagai pendekatan pembelajaran yang mendukung implementsi kurikulum merdeka dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan secara kaffah. Dan, sekolah tidak dapat melakukannya sendiri, dibutuhkan good will dari pemerintah terutama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendukung upaya-upaya konstruktif tersebut. &&&&








