Home Lombok Timur Musda Ke-7 MUI Lombok Timur, Bupati Warisin: Kolaborasi Ulama, Umara, dan Aghniya...

Musda Ke-7 MUI Lombok Timur, Bupati Warisin: Kolaborasi Ulama, Umara, dan Aghniya Kunci Lotim SMART

149
0
Musyawarah Daerah (Musda) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) ke-7 masa bakti 2025–2030 secara resmi dibuka Bupati Warisin Kamis (4/12).

Penulis: Buati Sarmi 

Editor: Mustaan Suardi 

Lombok Timur – Ditaswara.com. Musyawarah Daerah (Musda) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) ke-7 masa bakti 2025–2030 secara resmi dibuka. Acara yang menjadi agenda lima tahunan ini dipimpin langsung oleh Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, didampingi Wakil Bupati H. Moh. Edwin Hadiwijaya, pada Kamis pagi (4/12) di Pendopo Bupati Lombok Timur.

Musda kali ini mengusung tema penting: “Dengan Semangat Kebersamaan Ulama, Zu’ama dan Aghniya Kita Meneguhkan Peran Ulama untuk Mewujudkan Lombok Timur SMART.”

Kegiatan Musda menjadi forum strategis untuk mengevaluasi kinerja organisasi selama lima tahun, menyusun program kerja baru, dan yang paling krusial, memilih kepengurusan baru. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang untuk memperkuat peran MUI sebagai mitra kritis pemerintah sekaligus pelayan utama bagi umat.

Dalam sambutannya, Bupati Haerul Warisin menegaskan bahwa Musda memiliki peran sentral, bukan sekadar ajang konsolidasi internal.

”Musda ini penting sebagai wadah merumuskan langkah bersama dalam pembangunan daerah. Visi dan misi pemerintah daerah wajib berjalan seiring dengan tiga unsur utama yaitu ulama, umara (pemerintah), dan para aghniya (orang kaya yang dermawan),” tegas Bupati.

Bupati juga menyinggung perihal isu pemotongan anggaran dari pusat. Ia memastikan hal tersebut tidak akan menjadi hambatan. Sebaliknya, ia menjadikannya motivasi untuk bekerja lebih giat. ”Pemkab Lombok Timur tetap berkomitmen dan mampu mendukung pembiayaan program MUI,” ujarnya.

Sementara itu, Pimpinan MUI Lombok Timur, TGH Ishak Abdul Gani, menguatkan pentingnya sinergi antara ulama dan pemerintah. ”Ulama adalah watsatul anbiya (pewaris para nabi), sementara pemerintah adalah memakmurkan publik figur yang memiliki pengaruh besar. Karena itu, keduanya harus berjalan bersama demi negara dan daerah,” kata TGH Ishak.

Baca Juga :  Deklarasi Patriot Pangan, Mayjen TNI Pangdam IX/Udayana Bambang Trisnohadi Panen Raya Jagung di Lombok Timur

Ia menyebut Musda sebagai ajang silaturahmi, perekat kebersamaan, sekaligus momen pertanggungjawaban. Dalam usianya yang kini mencapai 35 tahun, MUI Lotim telah membuktikan perannya aktif dalam berbagai situasi krusial, mulai dari penanganan Pandemi Covid-19, respons bencana gempa bumi, hingga meredam ketegangan sosial di tengah masyarakat.

Apresiasi juga disampaikan oleh perwakilan MUI Provinsi NTB atas dukungan penuh Pemkab Lombok Timur terhadap fasilitas dan penyelenggaraan Musda.

Mereka menekankan bahwa kepengurusan baru tidak harus didominasi oleh wajah baru, melainkan harus fleksibel demi kebutuhan organisasi. Intinya, pengurus baru harus mampu:

* Membangun kekuatan MUI sebagai pembimbing umat.

* Memperkuat persatuan seluruh ormas di Lombok Timur.

* Menghadirkan pemikiran kolektif yang berdampak pada kemajuan daerah.

Harapannya, melalui Musda MUI ke-7 ini, akan lahir kepengurusan yang membawa semangat baru, memperkuat kolaborasi strategis ulama dan pemerintah, serta terus meneguhkan peran MUI dalam mewujudkan Lombok Timur yang SMART dan bermartabat.

Acara pembukaan ini turut dihadiri oleh Dewan Pimpinan dan pengurus MUI Lotim, perwakilan MUI Provinsi NTB, unsur TNI/Polri, Ketua Baznas Lotim, serta para tokoh agama dan peserta Musda.(ds2).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here