Penulis : Buati Sarmi
Editor: Mustaan Suardi
Lombok Timur. Ditaswara.com. Peringatan Hari Perempuan Sedunia merupakan momentum dunia untuk merangkul dan mendukung seluruh gerakan perempuan dan gerakan sosial yang menyuarakan hak-hak perempuan, pembebasan dari praktek kekerasan dan diskriminasi serta penghargaan terhadap keberagaman.
Di Indonesia, peringatan Hari Perempuan Sedunia tahun 2023 diselenggarakan oleh Gerakan Bersama Institut KAPAL Perempuan, LPSDM NTB, PEKA-PM NTT, YKPM Sulsel, LBH Perempuan dan Anak Morotai, PBT Padang, KPS2K Jawa Timur, BAKUMDIK Banten dan Bali Sruti Bali.
Peringatan ini diselenggarakan di sembilan provinsi di Indonesia yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Sumatera Barat, Jawa Timur, Banten, Bali dan DKI Jakarta.
Sekertaris Daerah (Sekda) Lombok Timur M Juaini Taofik, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada para perempuan Indonesia, perempuan NTB, perempuan Lombok Timur, dan perempuan secara umumnya dalam rangka peringatan hari perempuan internasional tersebut.
Melalui momen peringatan hari perempuan internasional yang di integrasikan dengan cara free day (CFD) Lotim, Sekda mengajak untuk bersama-sama semangat inklusivitas, memperjuangkan hak perempuan, para disabilitas, dan kelompok yang ter marjinalkan.
“Dalam rangka peringatan hari perempuan Internasional, pendekatan kita adalah Inklusivitas (tidak boleh merasa lebih dari yang lain) bersama semua komponen yang ada,”katanya, Ahad (12/3).
Sementara itu, Direktur LPSDM Ririn Hayudiani menyampaikan, bahwa peringatan hari perempuan internasional di Lombok Timur dilakukan secara bersama sebagai aksi kolektif bersama mitra strategis seperti Pemerintah Daerah Lotim serta jaringan CSO yang bekerja di Lotim seperti Rutgers, LRC, Gema Alam, ADBMI, HMI dan PMII.
Lanjut dikatakannya, mengadaptasi tema internasional, Gerakan Bersama mengusung tema “DIGITAL: Teknologi inklusif untuk keadilan gender, disabilitas dan kelompok marginal”, Isu teknologi inklusif menjadi tantangan pembangunan saat ini terutama pembangunan pemberdayaan perempuan.
“Pembangunan teknologi terus melaju. Namun di sisi lain kesenjangan akses juga semakin lebar. Perempuan, disabilitas dan kelompok marjinal menjadi kelompok yang paling terbelakang memperoleh akses teknologi dan internet,” ungkapnya.
Selain itu, sebanyak 30-50 % cenderung tidak menggunakan internet sebagai media pemberdayaan ekonomi dan politik. Sejalan dengan data global, di Indonesia, data Susenas 2019 juga menunjukkan bahwa ada ketimpangan antara perempuan dan laki-laki dalam mengakses internet dimana laki-laki 50,50 % dan perempuan 44,86 % (bps.go.id).
“Mengatasi kesenjangan akses teknologi dan internet bagi perempuan, disabilitas dan kelompok marjinal membutuhkan berbagai upaya dan inovasi,” ucapnya.
Diungkapkannya, Infrastruktur, pendidikan dan pembangunan kebudayaan untuk percepatan pembangunan teknologi dan internet perlu memberikan dan mengutamakan affirmative action atau perlakuan khusus bagi kelompok-kelompok yang paling tertinggal yaitu perempuan miskin, disabilitas dan kelompok marjinal.
Dukungan dan komitmen tentunya menjadi gerakan bersama dengan capaian saat ini mulai tingkat nasional sampai tingkat desa, seperti UU TPKS, UU Perkawinan dan lainnya. Namun perlu pemantauan dan pengawalan dalam implementasinya.
“Ada tiga isu yang di suarakan yakni mendukung disahkannya RUU PPRT, mengawal implementasi UU TPKS dan stop perkawinan anak,” katanya.
Peringatan Hari Perempuan Sedunia 2023 ini berlangsung sejak 8-13 Maret 2023 dengan beragam acara diantaranya adalah Senam Bersama, Penandatanganan Komitmen (Mendukung Pengesahan RUU PPRT, Kawal UU TPKS dan Stop Perkawinan Anak), Open Mic, Siaran Radio Komunitas, dan kampanye melalui platform media sosial.
Bertepatan dengan Peringatan Hari Perempuan Sedunia ini juga diluncurkan Gerakan Kesetaraan Gender 2030. Gerakan ini merupakan kolaborasi organisasi perempuan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk mendukung upaya-upaya pembangunan . (aty).








