Penulis : Buati Sarmi
Editor : Mustaan Suardi
Masyarakat Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, menggelar tradisi tahunan “Selamet Dowong” sebagai bentuk doa agar hasil panen melimpah. Tradisi ini setiap tahunnya dilaksanakan pada musim tanam padi. Berikut laporannya untuk pembaca.
Buati Sarmi
Wartawan Ditaswara.com
Selamet dowong ini sebuah tradisi yang intinya melakukan zikir bersama, meminta kepada Allah supaya hasil panen melimpah.
Rangkaian kegiatan Selamet Dowong ini dilaksanakan selama 4 hari. Hari pertama dimulai dengan kegiatan gotong royong membersihkan makam. Hari Jumat dipilih sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan gotong royong.
Tahapan selanjutnya, di hari Minggu masyarakat bersama-sama menyembelih ayam. Pada saat dilakukan penyembelihan, darah ayam-ayam ini ditampung menggunakan daun bambu. Daun bambu yang terkena tetesan darah ayam ini, akan ditancapkan di area penanaman padi.
“Pemikirannya, hama disawah itu akan tertarik dengan bau amis darah ayam. Sehingga hama tidak mengerubungi padi,” kata salah satu Sesepuh adat Denggen Lalu Selamet.

Ayam yang telah dipotong di hari Minggunya, dimasak untuk disajikan kepada masyarakat pada puncak acara di hari Senin, setelah zikir dan doa.
“Kenapa puncak acara memilih hari Senin, karena dikaitkan dengan hari kelahiran nabi kita,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Haryadi Surenggana berharap tradisi ini jangan sampai hilang. Perlu tetap ada regenerasi dalam menjaga budaya warisan leluhur agar dapat dilaksanakan dari tahun ke tahun.
Melalui zikir dan doa dalam tradisi Selamet Dowong ini, Haryadi berharap hasil panen di Denggen dan Lombok Timur umumnya lebih besar dari tahun sebelumnya. Sehingga ketahanan pangan Lombok Timur tetap terjaga.
“Ketika kita berdoa allah akan mengabulkan doa kita. Semoga hama penyakit dijauhkan. Hasil panen lebih banyak dari tahun kemarin,” kata Haryadi.








