Berita

Himmah NW untuk NTB Hijau

-

Oleh : Fathul Rahman

Secara organisasi saya memang tidak mengikuti pengkaderan pelajar/mahasiswa/pemuda di badan otonom NW. Barangkali saya termasuk yang dalam golongan – NW Kultural –

Sekolah di lembaga pendidikan NW. Belajar ngaji di para abituren. Di masa kecil saya, sore hari kami belajar di madrasah diniyah. Sebuah lembaga pendidikan non formal yang saat ini mirip dengan TPQ dan PKBM. Karena di diniyah tidak hanya belajar ngaji tapi juga pelajaran lainnya. Setiap Jumat sore ikut mendengarkan pengajian tuan guru di mushola. Beberapa kali maulanasyaikh datang memberikan pengajian langsung. Saya lupa tahun berapa, maulanasyaikh dijamu makan dan minum di rumah saya saat itu di Peresak Lauk Loyok.

Ketika banyak bergaul dengan para aktivis mahasiswa-pemuda NW, banyak diskusi tentang politik. Saya rasa itu hal yang wajar. Hampir semua organisasi kemahasiswaan/kepemudaan aktif dalam wacana wacana politik. Bahkan sampai gerakan politik praktis. Tidak ada yang salah. Hanya saja jika semua energi diarahkan ke politik, banyak medan pengabdian lainnya yang terlupakan.

Saya mengenal saudara Rifai Tahdumul Jibal bukan sebagai Himmah tapi sebagai pegiat literasi. Dia pernah ikut kelas inspirasi Lombok. Dia pernah menjadi relawan pendidikan hingga ke Jawa dan aktif pada kegiatan-kegiatan literasi. Beberapa kali kami berbagi buku. Diskusi tentang literasi. Hingga kemudian saya berkunjung ke rumahnya di sebuah kampung cukup terpencil di Desa Bilok Petung Sembalun. Di sana saya tahu dia kader Himmah. Mendirikan perpustakaan, menjadi guru ngaji di kampung.

Hari ini dia dilantik menjadi Ketua Koordinator Wilayah Himmah NW NTB. Sebagai ketua yang dipercaya untuk mengkoordinir Himmah se-NTB saya menaruh harapan besar agar kedepannya Rifai bisa memberikan warna berbeda di Himmah. Banyak melakukan kegiatan-kegiatan literasi. Menggagas perpustakaan perpustakaan di kampung. Kader Himmah harus menembus pelosok. Mendirikan perpustakaan. Mengajak anak-anak mencintai dunia literasi. Kegiatan literasi harus menjadi program utama semua cabang Himmah.

Baca Juga :  MONTONG BETOK IKUTI LOMBA DESA TINGKAT PROVINSI NTB

Himmah NW selama ini identik dengan Lombok. Hampir semua ketuanya lahir dan besar di Lombok. Kantor pusat juga di Lombok. Maka tahun ini, pertama kali ketua pimpinan pusat Himmah NW bukan orang Lombok.

Alimudin mungkin leluhurnya orang Lombok. Tapi dia lahir dan besar di Sulawesi. Darah NW mengalir di nadinya. Tapi dari sisi pergaulan tentu saja dia dipengaruhi oleh kultur Sulawesi. Dia kemudian merantau kuliah di Jakarta. Hingga kemudian dipercaya sebagai ketua. Pusat Himmah NW akan dibawa ke Jakarta. Dari Jakarta dia memiliki visi akan muncul Himmah NW se-Nusantara. Sebuah cita-cita yang mulia.

Tapi yang membuat saya kagum sama anak muda ini saat menyampaikan orasi. Di hadapan para pejabat dan kader NW (PB, PW, PD, dan badan otonom lainnya) Alimudin justru menyampaikan pidato sederhana. Tidak ada sama sekali menyinggung soal politik. Dia berulang kali menyebut lingkungan. Menyebutkan hutan rusak.

Himmah NW harus semakin hijau. Hijau dalam artian, banyak melakukan program lingkungan. Membuat kebun bibit, membagikan bibit, dan menanam pohon. Himmah NW harus punya target mengurangi lahan kritis. Artinya kader Himmah harus menanam pohon di lahan kritis itu.

Saya membayangkan pengurus Himmah menjadikan program ini sebagai program wajib. Misalnya dalam setahun bisa menanam 10.000 pohon. Pemerintah memfasilitasi dimana lahan kritis. Berikan ke kader Himmah untuk menghijaukan kembali lahan kritis itu. Program ini bukan hanya untuk di NTB tapi di seluruh Indonesia.

Literasi dan Lingkungan. Dua hal ini bisa menjadi satu kesatuan. Dimana ada taman baca, rumah baca, komunitas literasi yang digerakkan kader Himmah NW, maka di tempat itu pula dilakukan penyemaian bibit pohon. Kegiatan literasi beriringan dengan kegiatan lingkungan. Insya Allah bisa.

Baca Juga :  Fraksi-Fraksi DPRD KLU Sampaikan Pandum Dua Raperda Usulan Eksekutif

Mudah-mudahan kedepannya Himmah NW semakin perwira. Menebar virus literasi dan cinta lingkungan. Sesekali bahas politik bolehlah.

Yakin usaha sampai….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *