
Penulis: Buati Sarmi
Editor: Mustaan Suardi
Lombok Timur- Ditaswara.com. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Lombok Timur menyoroti tingginya angka peserta mandiri yang tidak aktif, mencapai sekitar 75 persen, mayoritas disebabkan oleh tunggakan iuran. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat target keaktifan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Lombok Timur masih di angka 75,68 persen, jauh dari target RPJMN 2025 sebesar 80 persen.
Kepala BPJS Kesehatan Lombok Timur, Elly Widiani, mengimbau masyarakat, khususnya peserta mandiri dengan tunggakan, untuk memanfaatkan program Rencana Pembayaran Bertahap (REHAB) atau yang lebih dikenal dengan program mencicil BPJS Kesehatan.
”Kami mencatat sekitar 40.000 peserta di Lombok Timur memiliki tunggakan. Hal ini menjadi PR besar kita bersama. Masyarakat Lombok Timur yang memiliki tunggakan iuran selama 4 bulan ke atas sangat kami anjurkan untuk memanfaatkan program cicilan ini. Ini akan sangat mempermudah mereka untuk kembali aktif,” jelasnya, pada Kamis (22/5).
Ketidakaktifan peserta mandiri secara perorangan disinyalir menjadi faktor utama yang menghambat pencapaian target keaktifan JKN di Lombok Timur. Padahal, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), setiap pemerintah daerah diharapkan mampu mencapai angka keaktifan 80 persen pada tahun 2025.
”Ini adalah tantangan kita bersama di Lombok Timur. Tidak hanya Pemerintah Daerah, tetapi juga segmen pemberi kerja, dan setiap perorangan juga harus berperan aktif untuk memastikan kepesertaan JKN mereka tetap aktif. Mari kita bergerak bersama untuk mencapai target 81% di tahun 2025 ini,” imbuh Kepala BPJS Kesehatan Cabang Selong.
Program cicilan ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang kesulitan membayar tunggakan secara sekaligus, sehingga mereka dapat kembali mengakses layanan kesehatan yang menjadi hak mereka sebagai peserta JKN.(ds2)







