Penulis: Buati Sarmi
Editor: Mustaan Suardi
Lombok Timur – Ditaswara.com. Memasuki hari ketujuh pencarian santri asal Jakarta bernama Kaifat Rafi Mubarok, yang dilaporkan hilang saat mendaki di Gunung Rinjani hingga saat ini belum juga membuahkan hasil.
Upaya pencarian oleh tim gabungan SAR, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), dan kepolisian pun terus digencarkan.
”Tim SAR telah melakukan pencarian secara intensif, termasuk menuruni tebing sedalam 500 meter. Namun, kondisi medan yang sulit dan cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan besar bagi tim,” ucap Yarman, Kepala Balai (TNGR) saat dikonfirmasi, Senin (7/10).
Adapun untuk mempersempit area pencarian, teman korban yang berhasil selamat turut dibawa ke lokasi kejadian untuk informasi yang akurat. ”Kami berharap ia dapat memberikan informasi lebih detail mengenai titik jatuhnya korban,” tambahnya.
Selain menggunakan peralatan manual, tim juga menggunakan drone untuk mempercepat proses pencarian. ”Dengan drone, kami bisa memantau area yang sulit dijangkau,” ungkapnya.
Sementara itu, duka mendalam dirasakan keluarga korban dan berharap besar agar korban secepatnya ditemukan. ”Saya berharap anak saya bisa segera ditemukan,” ujar Santo, ayah Kaifat dengan nada pilu.
”Semoga setelah kejadian ini TNGR dapat meningkatkan keamanan dan menambah rambu-rambu peringatan, serta pentingnya pendidikan dan pelatihan dasar bagi para pendaki, terutama anak-anak” tambahnya.
Dituturkannya, Kaifat bukanlah pendaki pemula dan semangat petualangan yang tinggi pada anak muda itu wajar, namun harus diimbangi dengan persiapan yang matang.
Kasus ini juga mengungkap sejumlah persoalan terkait pengelolaan Taman Nasional Gunung Rinjani. Perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan dan keselamatan pendaki.
Keluarga, teman, dan seluruh masyarakat berharap agar Kaifat segera ditemukan. Doa dan dukungan terus mengalir untuk tim SAR yang berjibaku di lapangan.
Sementara kasus hilangnya Kaifat juga menimbulkan berbagai pertanyaan. Beberapa pihak mengaitkannya dengan kasus serupa yang pernah terjadi sebelumnya, seperti kasus Siti Maryam pada 2017 silam. Kepercayaan akan kekuatan mistis dan tanda-tanda alam juga mengemuka di kalangan masyarakat setempat.
Namun, tim SAR tetap berpegang pada data dan fakta. ”Kami akan terus berupaya maksimal hingga korban ditemukan,” lanjut Yarman.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya keselamatan saat mendaki. ”Pendakian bukan hanya sekedar petualangan, tetapi juga memerlukan persiapan yang matang dan pengetahuan yang cukup,” pungkasnya.(ds2)








