Home Lingkungan Hidup Kades Dasan Lekong Lotim, Sang Motivator Sampah

Kades Dasan Lekong Lotim, Sang Motivator Sampah

164
0

 

Penulis :Buati Sarmi

Editor : Mustaan Suardi

 

Lombok Timur.Ditaswara.com.Kepala Desa Dasan Lekong, Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhammad Rajabul Akbar,S.Ag. berkat kepiawaiannya dalam mengelola sampah menjadikan lingkungan yang bersih dan sehat, kerapkali dirinya juga sering diundang menjadi pemateri atau narasumber dalam seminar atau diskusi yang menyangkut sampah, dan dijuluki sebagai Kades Sampah.

Akbar mengatakan, berawal dari Covid-19 para Kades Stress karna tidak ada program yang dapat dilaksanakan. ia mulai berfikir kira-kira apa yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi rupiah.

Akbar Mulai berfikir, dengan banyaknya limbah yang sama sekali tidak bisa dimanfaatkan, limbah satu satunya yang tidak bisa dimanfaatkan itu kan limbah Styrofoam. Pertama kali terinspirasi dari Styrofoam untuk membuat pot terlebih dahulu,

“Banyak saya buat pot, sampe ibu Niken istri Gubernur NTB menelpon saya tanya apa dijual atau tidak, Enggak saya enggak jual saya mau bikin pameran, saya keluarin saya komersial kan” paparnya.

Mulai dari sana ide idenya berkembang setiap harinya, hingga akhirnya saya menemukan satu produk yang pertamakali di Indonesia yang saya beri nama Batu Cinta Alam. kemudian kita pasang di GOR Serbaguna Samping Mts N Model Selong, memasang 500 keping saat itu.

“Sampai akhirnya saya menemukan satu produk yang pertamakali ada di Indonesia, yang saya beri nama Batu Cinta Alam, yang saat ini dipajang di GOR Serbaguna Dasan Lekong samping Mts N Model Selong, yang Awalnya hanya memasang 500 keping saat itu,” katanya.

Lanjut dikatakannya, Sukiman Azmy Bupati Lombok Timur pun datang karna penasaran dan melihat secara langsung, mengatakan “ternyata limbah ini sangat bermanfaat,”

Baca Juga :  Dukung Net Zero Carbon PLN Nusantara Power UP Sambalia Tanam 5000 Pohon Energi di Lahan Kritis Sambalia. 

Lanjut Akbar, memaparkan Styrofoam merupakan pengganti batu alam yang merupakan hasil dari eksploitasi alam seperti penggalian, pengrusakan dan sebagainya.

“Saya ingin banyak orang terinspirasi bahwa limbah tidak ada yang beli, juga syur ini dikatakan sebagai limbah abadi oleh para peneliti, akhirnya saya bisa buat kreasi,” katanya.

Pada tahun 2019 Akbar juga membangun Bank sampah INGES,

Lanjut dikatakan, februari 2019 diadakan suatu kegiatan besar yakni Hari peduli sampah Nasional di lapangan di Lapangan Dasan Lekong sebelum adanya GOR.

Dalam kesempatan tersebut diundang seluruh Kepala desa dan camat di kabupaten Lombok Timur, dan melaunching satu program namanya Program Desa Swadaya Kebersihan, oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Timur.

“Sejak kegiatan tersebut saya dikenal sebagai Kades Sampah,” katanya.

Dipaparkan Akbar, ia mengajak masyarakat tokoh pemuda, untuk bergabung di bank sampah Inges, juga telah memiliki nasabah sampah sekitar 500 orang yang menabung sampahnya.

“Saya diundang ke desa desa dari dinas lingkungan hidup provinsi mengontrak saya, ada kegiatan mereka saya dilibatkan, ketika saya ikut jambore sampah di Tabanan Bali, orang pusat datang kesini saya ditelpon dan akan melakukan syuting di Dasan Lekong terkait program sampah, dan itu perintah dari desa Kementerian Langsung katanya

“Saya motivasinya lingkungan ini bersih, dan itu tidak bisa sebentar butuh waktu yang sangat lama untuk mengedukasi masyarakat,”

Dikatakan lebih jauh, ia pernah dikontrak secara nasional selama 3 bulan di Lembar selatan, dari 38 Provinsi ia dapat di NTB, dan Alhamdulillah desa lembar selatan juga punya bank sampah.

Lanjut dikatakannya ia memiliki target tidak ada sampah yang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Disampaikannya Pemerintah jangan berbangga, pemerintah daerah khususnya Dinas Lingkungan Hidup Lotim, jangan berbangga dengan meluaskan atau memperluas area TPA karna itu adalah bom waktu,

Baca Juga :  Lalu Supratman Sang Pendekar Sampah. Berawal Dari Aksi Nyata Memungut Sampah Di Sembarang Tempat dan Menjadi Cemoohan Warga.(1)

Dikatakannya kenapa HPSN diperingati tanggal 21 Februari, karna pada tahun 2005 sebuah TPA di Lenggui Gajah di Cimahi, Bandung, meledak dan memakan korban 157 orang hilang karna ledakan itu menyebabkan longsor, dua kampung tenggelam, hal tersebut tidak boleh terjadi lagi di NTB, ujarnya.

Akbar berharap pemerintah tidak lagi berkeinginan menghabiskan anggaran untuk memperluas area TPA yang merupakan bom waktu.

“pemerintah daerah khususnya dinas lingkungan hidup Lombok timur harus mengedepankan edukasi, edukasi itu penting untuk memperkecil volume sampah yang ada di TPA, lebih baik anggarkan edukasi ke masyarakat interpensi dana desa silahkan dikolaborasi dengan kelurahan dan desa di Lotim,” katanya.

Karna hanya dengan cara itu, baru sampah itu bisa selesai. Karna UUPS nomor 18 tahun 2008, itu sesungguhnya setelah di undang undangkan setelah satu tahun, sebetulnya UUPS itu sudah tidak ada TPA lagi.

“hanya dengan mengedukasi masyarakat pilihlah sampah dari rumah maka itu akan gampang diolah, dan hal tersebut akan menjadi sekular kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia pun mengajak diri sendiri, kita dan masyarakat atau siapapun yang masih merasakan nikmatnya makanan pasti akan menimbulkan sampah, dan kita bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan, karna limbah yang terbilang ini adalah uang.(aty)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here