Home Sorotan Susur Pantai Lombok Bagian ke 2. Di Antara  Kram Kulit Terbakar dan...

Susur Pantai Lombok Bagian ke 2. Di Antara  Kram Kulit Terbakar dan Balsem di Tepi Malimbu

19
0
Rudi dan Andek saat menyusuri kawasan pantai Malimbu, panas dan haus jadi teman setia perjalanan hari ke-dua Susur Pantai bersama Koslintama 1987

Penulis : Mustaan Suardi (anggota tim susur pantai)

Susur Pantai Lombok Bagian ke 2.
Di Antara  Kram Kulit Terbakar dan Balsem di Tepi Malimbu

Malam pertama di Sasaka Beach nyaris tanpa tidur. Nyamuk nakal berpesta. Badan remuk, mata perih. Namun azan Subuh membangunkan tiga sekawan itu: Rudy, Sugeng dan Andek. Tidak ada pilihan lain, perjalanan hari kedua sejauh 23 kilometer menuju Bangsal harus dilanjutkan.

Balsem sudah jadi senjata wajib sejak pagi.

Rute yang mereka hadapi bukan main-main. Dari pantai landai berpasir hitam, sampai tebing-tebing curam yang memutus jalan. Setelah pamit pada penjaga Hotel Sasaka Beach, mereka kembali menjejakkan kaki di pasir hitam yang masih dingin.

Senggigi Tahun 80-an: Perawan, Panas, dan Kejam

Pantai Senggigi di era 80-an belum mengenal hotel. Hanya rumah-rumah nelayan dari anyaman bambu. Garis pantainya paling panjang dan landai. Pasirnya gradasi unik, putih kecoklatan bercampur hitam vulkanik. Pohon kelapa berjejer rapat.

Indah, tapi menipu.

Matahari baru naik sepenggalah, kulit sudah mulai terasa perih. Sengatan pantai barat Lombok membakar. Wajah dan tengkuk memerah. Kaki yang terus menghantam pasir mulai berontak.

Tantangan pertama muncul di Pura Batu Bolong. Bongkahan karang hitam raksasa memecah ombak besar. Jalur pantai buntu. Tidak ada jalan selain memanjat tebing licin setinggi 10 meter dengan ransel berat di punggung. Napas tersengal. Lutut gemetar. Mereka merangkak naik, lalu turun lagi ke pantai landai dengan jantung berdegup kencang.

Di sinilah Andek menyerah pada sepatu ketsnya.

“Berat sekali, seperti disemen,” keluh Andek. Pasir masuk ke dalam sepatu, menggesek kulit, menimbulkan lepuh. Setiap langkah seperti menarik beban 10 kilo. Otot betis mulai mengencang, tanda kram akan datang.

Baca Juga :  Dari Desa Kecil ke Panggung Internasional: Kisah Inspiratif Safri Muhsin, Mahasiswa UIN Mataram Delegasi Tiga Negara.

Balsem di Tepi Nipah

Memasuki Pantai Nipah dan Malimbu, teluknya memang indah, landai dan sepi. Dulu belum ada yang tahu. Jalan ke KLU masih tanah dan rusak. Tapi bagi mereka bertiga, keindahan itu dibayar mahal.

Pasir Nipah yang terlihat lembut ternyata menghisap tenaga. Kaki terbenam 10 cm setiap melangkah. Keringat bercucuran. Rudi yang membawa ransel paling berat mulai tertatih. Bahunya pegal seperti mau copot.

“Kram… kram!” Tiba-tiba Sugeng berhenti. Betisnya mengeras seperti batu. Ia jatuh terduduk di pasir panas.

Rudy cepat membuka ransel. Mengeluarkan balsem gosok cap langka yang sudah hampir habis. Balsem itu dioles tebal-tebal ke betis Sugeng, ke paha Andek, ke bahu Rudi. Aroma balsem menyengat bercampur bau keringat dan laut.

Panas balsem melawan panas matahari. Kulit punggung dan lengan mereka sudah mulai  merah terbakar. Setiap olesan balsem terasa perih, tapi setelah itu otot yang kaku mulai lemas kembali. Mereka saling memijat, saling menguatkan.

Di Malimbu, yang kini jadi gardu pandang populer dengan view tiga Gili, mereka rebah di bawah pohon kelapa. Nelayan yang sedang panen kelapa muda menatap heran. Tiga anak muda dengan kulit memerah , kaki penuh lepuh, dan bau balsem yang menyengat.

Air kelapa muda jadi penawar. Tapi kaki tak mau kompromi.

7 Kilometer Terasa 70 Kilometer

Perjalanan Senggigi – Malimbu yang hanya 7 kilometer di peta, terasa seperti 70 kilometer di pasir. Setiap tebing yang harus dipanjat memaksa mereka naik ke jalan raya, lalu turun lagi ke pantai.

Jerigen 5 liter yang mereka isi dari sumur nelayan terasa makin berat. Saat itu belum ada air mineral kemasan. Air sumur itu yang jadi penentu hidup.

Baca Juga :  Dr. GEMA Sumbangkan Satu Ekor Sapi Kurban Kepada DPD Demokrat NTB. 

Memasuki Pandanan dan Kecinan, pasir putihnya yang lembut justru jadi musuh. Semakin putih, semakin dalam kaki terperosok. Andek akhirnya melepas sepatu ketsnya. Kakinya bengkak, kulit telapak kakinya putih karena terendam keringat di dalam sepatu.

Di Kecinan, yang kini jadi dermaga speedboat, mereka kembali membuka balsem. Kali ini hampir seluruh kaki diolesi. Betis, paha, telapak kaki. Kulit yang terbakar matahari perih saat kena balsem, tapi mereka menahan. Sugeng butuh kopi dan rokok untuk menahan nyeri. Rudi hanya minum air putih, menahan mual karena kelelahan.

“Kita ini nekat. Tidak ada latihan fisik. Modal dengkul,” kata Rudi sambil memijat bahunya yang sudah mati rasa.

Target Maghrib sampai Bangsal menjadi cambuk.

Mentigi, Teluk Nara, Teluk Kombal dilewati dengan langkah gontai. Matahari sore justru paling kejam. Kulit yang sudah terbakar pagi, kini terasa seperti disayat. Setiap hembusan angin laut membawa perih.

Setengah jam sebelum Maghrib, Bangsal terlihat. Dari jauh hanya deretan perahu nelayan.

Seorang nelayan menunjukkan bangunan beratap ilalang bekas gudang perahu. Di sanalah mereka mendirikan tenda. Pengalaman diserbu nyamuk malam pertama membuat mereka tidak berani tidur tanpa tenda.

Malam itu, setelah mie instan dan nasi dimasak, ritual balsem kembali. Satu botol balsem hampir habis untuk tiga pasang kaki yang kram, betis yang keras, dan kulit punggung yang melepuh merah kehitaman.

Mereka tertawa, tapi tawa yang menahan sakit. Susur pantai ternyata bukan soal pemandangan indah. Ini soal bertarung dengan diri sendiri.

Di dalam tenda yang pengap, dengan suara ombak Bangsal yang menghantam keras, mereka tertidur lelap. Bau balsem masih menyengat di dalam tenda, menemani malam kedua yang penuh luka.

Baca Juga :  Kejagung Diminta Beri Sanksi Tegas Pelaku Korupsi Solar Nonsubsidi di Pertamina

Bersambung ke Bagian 3:

Dari Bangsal Menuju Kayangan- Perjuangan Tanpa Pohon Pelindung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here