Penulis : Mustaan Suardi ( tim susur pantai)
Jejak Kaki di Pasir Utara Lombok, Juli 1987
Lombok tahun 80-an tidak seperti sekarang.
Belum ada deretan kafe di tepi pantai. Belum ada musik dari speaker bluetooth. Belum ada cahaya lampu jalan yang terang benderang sampai ke bibir pantai. Yang ada hanya suara debur ombak, perahu-perahu nelayan yang berderet diam, dan pasir yang masih putih bersih tanpa jejak plastik.
Di era itulah sebuah komunitas kecil namun disegani di Kota Mataram bergerak. Namanya Koslintama – Kelompok Studi Lingkungan Tagaroa Mataram.
Komunitas ini digagas oleh sosok kharismatik, Almarhum Rusdi Tagaroa. Di tangan beliau, Koslintama tidak hanya bicara soal pohon dan sampah. Mereka bicara soal kehidupan. Soal ekonomi warga pesisir yang sulit, soal sosial budaya yang mulai bergeser, bahkan berani menyoroti kebijakan pemerintah di masa Orde Baru yang saat itu tidak banyak orang berani bicara. Markas mereka sederhana, tapi pikirannya jauh ke depan.
Dan di tahun 1987, mereka membuat keputusan gila yang penuh romantisme anak muda: Menjajaki keindahan pantai utara Lombok dengan berjalan kaki. Dari Ampenan sampai Labuhan Carik, KLU.
Rabu, 11 Juli 1987. Pukul 17.00 WITA.
Langit Ampenan sore itu agak mendung. Pantai Ampenan masih sangat asli. Belum ada tembok penahan abrasi seperti sekarang. Belum ada taman kota. Hanya hamparan pasir yang luas dan bau ikan asin dari kampung nelayan.
Tiga mahasiswa dilepas secara resmi. Bukan dengan upacara besar. Hanya dengan semangat.
Mereka adalah Rudi Hidayat, Sugeng CP, dan Mustaan Suardi. Tiga nama yang saat itu masih berstatus mahasiswa Universitas Mataram dari berbagai jurusan, yang disatukan oleh satu kata: Cinta Alam.
Yang melepas mereka adalah para punggawa Koslintama. Hadir almarhum Rusdi Tagaroa sendiri, Ahmad Furqan, Bang Helmi, Bang Usman, Roro Pipit dan kawan-kawan lain. Pelukan dan tepuk bahu adalah bekal paling berharga sore itu.
Bekal fisik mereka sangat minimalis. Era 80-an tidak mengenal carrier 80 liter dengan frame aluminium. Mereka hanya membawa tas ransel kanvas butut, baju ganti seperlunya.
Satu orang membawa tenda pleton berat yang kalau basah makin berat. Satu orang membawa kompor spiritus, mie instan, dan beras. Satu orang lagi membawa P3K, obat merah, dan senter baterai besar yang cahayanya kuning redup.
Tidak ada HP. Tidak ada GPS. Tidak ada Google Maps. Peta mereka adalah bertanya pada nelayan, dan kompas mereka adalah garis pantai itu sendiri.
Perjalanan dimulai.
Baru beberapa ratus meter berjalan, mereka langsung sadar: Susur pantai tidak seindah di foto.
Pasir Ampenan yang terlihat lembut ternyata melesakkan kaki. Apalagi mereka hanya memakai sandal jepit swallow yang talinya mudah putus. Setiap langkah terasa berat. Keringat mulai mengucur. Di kiri mereka, puluhan perahu jukung nelayan berjejer rapat dari Ampenan sampai Bintaro, seperti tulang-belulang ikan raksasa yang terdampar.
Tantangan pertama datang lebih cepat dari perkiraan: Muara Sungai Meninting.
Muara itu bukan sekadar sungai. Di musim itu, airnya deras, coklat, dan dalam. Aturan ekspedisi Koslintama sangat keras: _Selama masih bisa dilewati di pantai, tetap lewat pantai. Dilarang naik ke jalan raya, kecuali tebing curam yang tidak mungkin dipanjat._
Maka mereka harus menyeberang. Celana dilipat sampai paha, tas ransel diangkat tinggi-tinggi di atas kepala. Arus menabrak kaki mereka. Pasir di bawahnya bergerak. Itulah pelajaran pertama alam: Alam tidak pernah kompromi.
Setelah lolos dari Meninting, mereka sampai di Pantai Buaya Putih. Sekarang pantai ini ramai, penuh warung dan pengunjung sunset. Tapi tahun 1987, pantai ini sunyi sekali. Bersih. Sepi. Hanya suara ombak dan kepiting-kepiting kecil yang lari ke lubang. Mereka bisa melihat matahari terbenam tanpa terhalang bangunan apapun. Pemandangan yang hari ini sudah sangat mahal harganya.
Magrib turun. Langit Senggigi mulai gelap. Senter dinyalakan, tapi cahayanya tidak banyak membantu.
Di kejauhan, ada cahaya lampu yang agak terang. Itulah Hotel Sasaka Beach di Tanjung Bias.Hotel itu legenda. Dibangun tahun 1979, hotel pertama di jalur Ampenan – Senggigi. Saat itu, memiliki hotel di sana adalah simbol kemewahan yang luar biasa. Bangunannya hanya beberapa bungalow kayu yang menyatu dengan kelapa.
Malam pertama, mereka memutuskan menginap di sana. Tentu bukan menyewa kamar. Mana mungkin mahasiswa punya uang untuk sewa kamar hotel bintang saat itu. Dengan sopan, mereka mendatangi penjaga hotel, memperkenalkan diri sebagai Tim Susur Pantai Koslintama, dan meminta izin untuk mendirikan tenda di halaman.
Penjaga itu baik. Ia tidak mengizinkan mendirikan tenda, tapi ia mempersilakan mereka tidur di pojok bangunan luar bungalow, di beranda kayu yang dingin.
Di sanalah dapur darurat digelar. Kompor spiritus dinyalakan, air dari jerigen dituang, dan tiga bungkus mie rebus menjadi makanan terenak sedunia malam itu. Perut lapar, badan lelah, tapi tawa mereka keras.
Tapi pesta belum selesai. Ketika hendak tidur, tamu tak diundang datang bergerombol.
Nyamuk Senggigi.
Besar-besar, ganas, dan tidak kenal ampun. Di tahun 1987, belum ada Autan, belum ada Soffell. Yang ada hanya minyak kayu putih dan obat nyamuk bakar yang asapnya pedih di mata. Mereka mencoba bertahan. Tidur pun jadi tidur ayam. Sebentar terlelap, sebentar tepuk-tepuk kaki dan tangan.
Di bawah langit Senggigi yang penuh bintang, di beranda kayu Hotel Sasaka yang dingin, tiga anak muda itu tidak bisa tidur nyenyak. Namun di dalam ketidaknyamanan itulah persahabatan mereka ditempa.
Esok pagi, perjalanan panjang masih menanti. Di depan mereka terbentang pantai-pantai perawan yang belum terjamah: Pantai Kerandangan, Batu Bolong, Malimbu, Nipah, dan terus sampai ke Bangsal. Target esok adalah Pantai Bangsal, KLU.
Malam pertama telah memberi salam. Lombok utara telah memberi sambutan.
Bersambung ke Bag. 2







