Home Berita TGB PILIH SAUDARA ATAU SAHABAT?* _(Masa Nggak Paham!)_ ==================== ...

TGB PILIH SAUDARA ATAU SAHABAT?* _(Masa Nggak Paham!)_ ==================== Oleh: _Muallif Majhul_

123
0

*TGB PILIH SAUDARA ATAU SAHABAT?*

_(Masa Nggak Paham!)_

====================

Oleh: _Muallif Majhul_

 

Memang seni politik itu semakin menarik, manakala ada sedikit “kebimbangan” karena kualitas calon yang sama-sama hebat, atau karena “arah pilihan” guru/panutan yang “belum diterima” hati kecil kita sebagai pemilik hak suara.

Hemat saya, dalam suasana batin seperti ini (saya rasa) yang sedang dialami oleh teman-teman di NWDI (tidak semua sih, karena jauh lebih banyak yang sudah yakin pilih Jilbab Ijo), atau minimal saya pribadi yang merasa demikian karena disebabkan sangat memanuti kemauan Guru, Syekh TGB.

Memang secara struktural ketiga Calon Gubernur NTB ini adalah tokoh hebat di NWDI. Umi Rohmi Ketum PP. Muslimat, Dr. Zul (akrab disapa DZ) Ketua Dewan Pakar, dan Mamiq Iqbal Ketua IV tingkat PB. Syekh TGB pada posisi ini sudah bijaksana untuk harus “bermain” (berposisi) cantik. Kita yang jamaah, _masa nggak paham!_

Oke, kalau begitu coba sejenak kita menimang dan menimbang kekuatan magnet calon, khususnya Cagub Umi Rohmi (sebagai saudara) dan Cagub DZ (selaku sahabat) Syekh TGB. Mengapa Umi diperhadapkan hanya sama DZ? Karena Mamiq Iqbal mampu mandiri, sementara yang satu ini tak mampu berdiri sendiri. Haii…

Oleh karena itu, menarik kalau sejenak kita menimbang-nimbang sejauh mana kekuatan tarikan (simpati) Syekh TGB ke salah satu Cagub (Umi Rohmi dan Bang DZ) karena persaudaraan dan sebab persahabatan.

*Kuatnya Sisi Persaudaraan:*

*1.* Syekh TGB sebagai tokoh agama, ahli tafsir, dan kelas intelektualnya sudah mendunia. Ketokohannya di bidang agama di tingkat nasional sudah biasa sepanggung bersama Prof. Quraish Shihab bahkan Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad Thayyib. Apa dengan kealiman beliau ini sampai hati akan meninggalkan saudara? *Tidak mungkin!*

Baca Juga :  BTNGR Tegaskan Penambahan Kuota Pendakian Rinjani Harus Berdasarkan Kajian Ilmiah

*2.* Syekh TGB, kata dan sikapnya di bidang politik sudah menjadi rujukan di tingkat nasional, dan pendapatnya memiliki hentakan hebat juga, sama seperti hentakan tokoh-tokoh nasional sekaliber KH. Kata Aqil Siradj, Prof.KH. Haidar Nasir, dan Prof. Din Syamsuddin yang kebetulan “seringkali memberi sinyal pilihan politik”.

Apakah ketokohan Syekh TGB sehebat ini masih diragukan tidak akan bisa bermain cantik berupa; *_”Boleh saja mensupport sahabat, tapi hati dan pilihan tetap saudara. Kalau bukan saudara siapa lagi?”_*

*3.* Dari tiga Cagub NTB ini, Syekh TGB mempunyai satu calon yang beliau seayah-seibu, sesama saudara kandung, teman ia pernah merasakan pahit manis – sepiring, serumah dan seperjuangan. Apa _muungkiiin_ masih sampai hati beliau membiarkan saudara? Sementara realitanya pun, Zuriat Maulana di Pancor _alhamdulillah_ masih tetap bersatu selama ini.

 

*_”Masa gak paham-paham!”_* Kata Syekh TGB di Mandalika.

 

*Plus-Minus Sisi Persabahatan:*

*1.* Permintaan yang paling dibutuhkan Pak DZ dari Syekh TGB adalah “kedekatannya” sebagai sesama sahabat. Yang kebetulan ceritanya, diklaim sedari keduanya masih satu gedung di Senayan. Kedekatan semacam “politis”.

Berarti TGB akan menghidupkan teman yang dibangun di atas dasar politik? Tidak begitu juga sih, tapi saya yakin tidak akan menggadaikan persaudaraannya atas persahabatan yang dibangun di atas pondasi itu.

*2.* Kalau pun kita mengiyakan persahabatan Pak DZ dengan Syekh TGB yang dekat, tapi dari sisi manfaat, siapa yang diuntungkan selama ini? Bukankah Dr. Zul yang diamanahi sebagai Gubernur NTB pada suatu periode, sejauh mana ia mengeksekusi kebijakan-kebijakan warisan TGB yang punya geliat hebat.

Di mana cerita Pariwisata Halal dan keinginan pembangunan Islamic Center?

yang mengandung

Baca Juga :  Bupati Warisin Melantik dan Mengukuhkan Pengurus Dekranasda Lombok Timur 

Di mana suaranya nyaring Program Bumi Sejuta Sapi (BSS) dan program lainnya?

Dalam konteks ini, saya yakin Syekh TGB akan berpikir ulang untuk menambatkan pilihannya ke Pak DZ, terlebih dari tiga kontestan masih ada saudaranya sendiri, saya yakin dia memilih kakak kandungnya.

Demikian kira-kira timbang-menimbang arah pilihan Syekh TGB, yang boleh jadi dibilang subjektif, tapi inilah sedikit alasan yang saya rasa logis. Bukankah saudara nomor satu dan sahabat nomor dua?

*_”Masa gak paham-paham!”_* Kata Syekh TGB di Mandalika.

Simpulan. Dari Syekh TGB kita belajar seni politik. *_Junjung saudara tanpa menginjak kaki sahabat!_*

 

_Wa Allah A’lam!_

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here