Advetorial/iklan

Nenek Saep Bertahan Hidup Sebagai Pengerajin Tungku di Pringgasela Selatan Sejak Era Tahun 1950-an

-

Penulis : Buati Sarmi

 

Nenek Saep Bertahan Hidup Sebagai Pengerajin Tungku di Pringgasela Selatan Sejak Era Tahun 1950-an

Lombok Timur -Ditaswara.com. Baiq Adenin atau kerap dipanggil Nenek Saep (85) bertahan hidup sebagai seorang pengerajin tungku di Dusun Kedondong Lauk, Desa Pringgasela Selatan Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur sejak era tahun 1950-an.

Menjadi pengerajin tungku tanah liat, dimulai nenek Saep sejak masih anak-anak yang di dapatkan langsung dari kedua orang tuanya. Dimana saat itu tungku masih harga 2 sen.

Meski sebagian besar masyarakat sekarang ini banyak beralih menggunakan peralatan memasak modern, eksistensi tungku tanah liat ternyata masih banyak diminati. Hal itupun menjadi sumber mata pencaharian sehari-hari perempuan paruh baya yang kerap disapa Nenek Saep itu bertahan hidup untuk dirinya serta dua orang cucunya. “Walaupun sekarang sudah banyak orang-orang beralih menggunakan peralatan bagus, tapi alat memasak tradisional tungku ini masih banyak diminati masyarakat,” ucap Nenek Saep, saat ditemui media ini dirumahnya, Senin (26/2).

Untuk sampai ke rumahnya yang sederhana pun harus melewati gang sempit, yang hanya bisa dilewati sepeda motor dan pejalan kaki. Rumahnya pun berada di pojok gang. Tidak ada barang elektronik satupun terpajang tersebut. Hanya tumpukan tanah liat yang siap diolahnya untuk dijadikan tungku dan satu buah ember tua di teras rumahnya. Di teras dengan lantai tanah itulah nenek Saep setiap hari menghabiskan waktunya menyelesaikan tugasnya sebagai pembuat tungku tanah liat tersebut.

Meski sudah sangat tua, Nenek Saep tidak ingin bergantung hidup pada orang lain apalagi meminta-minta. “Ini menjadi motivasi saya untuk tetap membuat tungku tradisional walaupun saya tahu sudah banyak alat-alat memasak modern saat ini,” katanya sambilan memoles tanah liat sebagai tungku.

Baca Juga :  BPKAD Provinsi NTB : Ringkasan APBD yang di Klasifikasi Menurut Kelompok dan jenis Pendapatan Belanja dan Pembiayaan Tahun Anggaran 2024,bagian ke 5

Diakuinya di usia sekarang ini, nenek Saep hanya bisa membuat empat sampai lima tungku saja perhari. Untuk model tungku, ada tiga model yang dibuat yakni tungku model panjang dengan dua lubang tempat memasak, kemudian tungku satu lubang dengan ukuran besar dan kecil. “Ketiga model ini sama-sama laku dan banyak peminat. karena harga tungku ini juga terjangkau,” ujarnya.

Satu tungku dengan model panjang dijualnya harga Rp35 sampai Rp50 ribu. Sedangkan harga tungku satu lubang mulai harga Rp25 sampai Rp40 ribu, kemudian tungku satu lubang kecil harga Rp20 sampai 35 ribu.

Lebih jauh, tungku yang sudah jadi atau matang pun langsung diambil pemiliknya kerumah nenek Saep dan sisanya langsung dibawa ke pasar oleh kerabatnya. Untuk hasil penjualan nantinya akan dibagi dua. “Adek dari almarhum suami saya dia yang selalu bawa tungku-tungku ini ke pasar. Hasil pun kami bagi dua,” jelasnya.

Diakuinya sudah empat tahun belakangan ini nenek Saep tidak pernah ke pasar dan keliling desa lantaran tidak kuat membawa tungku dan ia hanya membuat saja. “Meski saya jarang keluar tapi pelanggan saya yang dulu-dulu masih banyak yang mencari bahkan sampai tidak kebagian, karena usia saya sudah tidak bisa membuat banyak lagi,” demikian Nenek Saep.()

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *