
Penulis: Buati Sarmi
Editor: Mustaan Suardi
Lombok Timur, Ditaswara.com – Sebuah insiden mengejutkan kembali mengguncang Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Seorang turis asing asal Belanda, Sarah Tamar van Hulten (26), dilaporkan terjatuh cukup dalam saat melintasi jalur ekstrem menuju Danau Segara Anak pada Kamis (17/7) sekitar pukul 13.00 WITA.
Sarah, yang mengalami luka serius di bagian belakang kepala, berhasil dievakuasi dramatis menggunakan helikopter dan segera diterbangkan ke Bali untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Keberhasilan evakuasi ini tak lepas dari respons cepat tim gabungan dan kondisi cuaca yang mendukung.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Yarman, membenarkan insiden nahas ini. ”Benar, ada pendaki jatuh dengan kedalaman sekitar 20 meter dari jalur Pelawangan menuju Danau Segara Anak,” jelas Yarman.
”Alhamdulillah, korban berhasil dievakuasi melalui udara. Kan dia punya asuransi sendiri dan pada hari ini cuaca sangat mendukung,” tambahnya menggarisbawahi efisiensi operasi penyelamatan.
Tim penyelamat gabungan yang terdiri dari unsur TNGR Sembalun, SAR Unit Lombok Timur, EMHC, porter, dan masyarakat lokal, dengan sigap bergerak menuju lokasi kejadian dilengkapi peralatan lengkap. Kecepatan respons ini memastikan Sarah Tamar van Hulten segera mendapatkan pertolongan.
Menyusul insiden ini, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) mengambil langkah tegas dengan mengumumkan penutupan sementara aktivitas pendakian pada jalur Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak. Pengumuman ini, yang sejatinya telah disampaikan pada Rabu (16/7/2025) – sehari sebelum insiden jatuhnya pendaki asal Belanda – berlaku hingga batas waktu yang belum ditentukan.
”Pendakian ke Gunung Rinjani kita tutup sementara, guna meminimalisir insiden yang sering terjadi. Juga untuk perbaikan jalur khususnya dari Pelawangan ke Danau Segara Anak,” tegas Yarman.
”Yang kita tutup itu jalur pendakian dari Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak. Kalau ke Summit Rinjani masih kita buka.” ujarnya.
Selain penutupan jalur, BTNGR juga menangguhkan layanan pemesanan tiket melalui aplikasi e-Rinjani, berlaku mulai 16 Juli 2025 hingga waktu yang tidak ditentukan.
Pihak BTNGR menjelaskan bahwa penutupan ini merupakan bagian dari upaya mereka untuk meningkatkan pelayanan fasilitas wisata alam dan pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan di Taman Nasional Gunung Rinjani.
”Penutupan ini merupakan langkah preventif untuk menjamin keselamatan para pendaki dan sekaligus memberikan kesempatan bagi kami untuk melakukan perbaikan serta peningkatan fasilitas di jalur pendakian,” tandasnya.
Insiden tragis ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pendaki akan pentingnya kehati-hatian ekstrem dan persiapan matang saat menaklukkan medan menantang seperti Gunung Rinjani. Pihak berwenang terus mengimbau agar pendaki selalu mematuhi aturan dan petunjuk demi keselamatan bersama.(ds2)








