Penulis: Buati Sarmi
Editor: Mustaan Suardi
Lombok Timur – Ditaswara.com-. Kantor Inspektorat kabupaten Lombok Timur terbakar diduga akibat korsleting listrik di ruang operator Irban I. Kejadian terjadi saat Kantor Inspektorat dalam keadaan terkunci dan jam kantor telah usai. kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 14.30 Wita, Jumat (5/4).
Untungnya tim Damkarmat Lotim segera menuju lokasi kejadian dan memadamkan api hampir setengah jam lamanya. Tim pun mengakui terkendala karena asap hitam tebal saat mencoba memasuki ruangan yang terbakar.
“Untuk mengurangi asap tim terpaksa memecahkan kaca agar asap bisa keluar sehingga memudahkan petugas,”kata Kabid Sarana Prasarana Damkarmat Lombok Timur, Helmy Eka Saputra.
Ia mengatakan untuk dugaan sementara penyebab kejadian akibat korsleting listrik yang sumbernya dari dispenser diruang operator Irban I. Dalam kejadian itu, tiga unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api.
Sementara itu, Inpektur Kantor Inspektorat Lombok Timur, Hj Miftah Wasli mengakui bahwa ia menerima informasi tersebut dari stafnya. Untuk saat ini penyebab dari kebakaran tersebut belum bisa dipastikan dan masih menunggu hasil pemeriksaan dari aparat kepolisian.
“Di ruangan itukan ada komputer, printer dan dispenser, Mudah-mudahan tidak ada file yang hilang ataupun dokumen sehingga kita kehilangan jejak” ujarnya.
Lebih jauh dikatakan, bahwa dalam ruangan tersebut ada dokumen hasil pemeriksaan kasus yang sedang berjalan yang semestinya tetap terjaga.
“Mudah-mudahan file itu tersimpan dengan baik, karena biasanya pegawai mempunyai pegangan dokumen dan file yang terdapat pada komputer biasanya sudah melalui tahapan review dan sudah final”jelasnya.
Ia juga menerangkan bahwa pelayanan kantor Inspektorat harus tetap berjalan. Meskipun saat ini kondisi ruangan pada Irban 1 dalam keadaan rusak akibat kebakaran, karena masih ada ruangan lain yang dapat digunakan.
Baca Juga : Upaya Turunkan Angka Stunting, DP3AKB Lotim Ubah Strategi Penanganan Untuk Hasil Optimal Lombok Timur - Ditaswara.com. Dalam rangka upaya penurunan angka stunting, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur (Lotim) berupaya dengan mengubah strategi yang lebih intensif dan terukur. Dilakukannya strategi perubahan adalah untuk mencapai hasil optimal setelah hasil audit menunjukkan bahwa pendampingan yang tidak berkesinambungan menjadi salah satu faktor lambatnya penurunan angka stunting. ”Penurunan angka stunting dari tahun 2022 ke 2023 hanya 0,1 persen, dari 21,7 persen menjadi 21,6 persen. Ini menunjukkan bahwa pembinaan dan pendampingan yang dilakukan belum optimal,” ucap Kadis DP3AKB Lombok Timur, H. Ahmat dalam kegiatan Gerakan Nasional Tingkatkan Integrasi (GENTING) di Desa Kerongkong, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, Kamis (27/2). Kementerian Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kini mengubah pendekatan dengan mengintensifkan peran orang tua asuh. Pendampingan tidak lagi bersifat sporadis, melainkan berkelanjutan selama dua tahun, dengan fokus pada intervensi nutrisi dan non-nutrisi. ”Intervensi nutrisi membutuhkan anggaran sekitar Rp.15 ribu per hari. Oleh karena itu, bantuan diharapkan diberikan selama dua tahun penuh untuk memastikan kecukupan gizi anak,” jelas H. Ahmat. Kendati demikian, durasi pendampingan oleh orang tua asuh tidak harus selalu dua tahun penuh. Tim pendamping keluarga (TPK) di lapangan akan memastikan keberlanjutan pendampingan, bahkan jika orang tua asuh hanya mampu memberikan bantuan dalam waktu singkat. ”Jika seorang orang tua asuh hanya mampu mendampingi selama tiga bulan, kami akan memastikan ada orang tua asuh lain yang melanjutkan pendampingan. Kami akan terus memantau hingga anak tersebut tidak lagi berstatus stunting,” katanya. Disebutkan dengan strategi ini, pemerintah menargetkan penurunan angka stunting secara signifikan. Secara nasional, target penurunan adalah satu juta kasus, sementara NTB sendiri menargetkan pendampingan terhadap 38.126 bayi stunting. ”Kami memiliki data lengkap by name by address (BNBA) dari bayi-bayi yang membutuhkan pendampingan. Jika ada pihak, termasuk media, yang ingin menjadi orang tua asuh, kami akan berikan datanya,” imbuhnya. ”Perkembangan anak-anak yang didampingi akan terus dipantau, termasuk peningkatan berat badan dan tinggi badan. Evaluasi berkala akan dilakukan untuk memastikan efektivitas strategi ini dalam menekan kasus stunting,” pungkasnya.(ds2)
“Meski ruang Irban I saat ini dalam kondisi seperti itu, kemungkinan dalam waktu seminggu tidak digunakan, masih ada aula atau ruangan lain yang dapat digunakan” katanya.
Adapun kerugian akibat kejadian tersebut belum bisa diperkirakan, karena sampai berita ini dinaikkan masih dalam pemeriksaan dari tim inavis Polres Lombok Timur.(aty)