Home Berita INISCOM 2025: Terobosan Kompetisi Mahasiswa Islam Internasional yang Menggetarkan Dunia Akademik .

INISCOM 2025: Terobosan Kompetisi Mahasiswa Islam Internasional yang Menggetarkan Dunia Akademik .

586
0
Sejarah baru tercipta di dunia akademik Islam. Untuk pertama kalinya, Fakultas Ushuluddin lintas negara berkolaborasi dalam sebuah ajang kompetisi mahasiswa berskala internasional bertajuk International Islamic Student Competition (INISCOM) 2025.

Penulis: M.Arkan Fawwaz Iswar

Surabaya – Ditaswara.com. Sejarah baru tercipta di dunia akademik Islam. Untuk pertama kalinya, Fakultas Ushuluddin lintas negara berkolaborasi dalam sebuah ajang kompetisi mahasiswa berskala internasional bertajuk International Islamic Student Competition (INISCOM) 2025. Ajang bergengsi ini mengangkat tema besar “Merespons Problem Kemanusiaan Abad 21: Integrasi Nilai Spiritual, Kearifan Lokal, dan Teknologi Global”, menghadirkan ratusan talenta muda dari dalam maupun luar negeri yang siap beradu karya, gagasan, dan kreativitas.

Ajang monumental ini lahir dari inisiatif Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel Surabaya yang kemudian mendapat dukungan luar biasa dari delapan fakultas Ushuluddin di Indonesia. Melalui forum dekan pada November 2024, ide besar ini disepakati dan melahirkan konsorsium nasional yang berkomitmen mengangkat level kompetisi mahasiswa ke ranah internasional.

INISCOM dirancang dengan empat tujuan utama. Pertama, meningkatkan prestasi mahasiswa di tingkat global dan memperkuat rekam jejak akademik mereka. Kedua, membangun jejaring akademik lintas negara. Ketiga, membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antar perguruan tinggi. Dan keempat, mendorong kontribusi nyata terhadap problem kemanusiaan abad 21 melalui pendekatan keilmuan Islam, seni, dan riset.

Menurut Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Andi Suwarko, M.Si., tujuan besar INISCOM bukan hanya untuk mengukuhkan prestasi akademik mahasiswa di level internasional, tetapi juga untuk menumbuhkan kepekaan sosial dan spiritual. Beliau menegaskan: “Kompetisi ini menjadi wahana penting untuk mengintegrasikan ilmu, seni, dan spiritualitas dalam menjawab problem kemanusiaan abad 21. Mahasiswa tidak sekadar berkompetisi, melainkan belajar bagaimana berkolaborasi lintas budaya dan negara.” katanya.

Kompetisi ini diikuti oleh perguruan tinggi bergengsi dari dalam dan luar negeri. Dari Indonesia, hadir UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai tuan rumah bersama UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, UIN Imam Bonjol Padang, UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi, UIN Antasari Banjarmasin, UIN Alauddin Makassar, dan UIN Mataram. Dari luar negeri, bergabung Universiti Kebangsaan Malaysia, Universiti Utara Malaysia, Universiti Islam Sultan Sharif Ali Brunei Darussalam, serta Prince of Songkla University Thailand.

Baca Juga :  Berdayakan Ekonomi Kelompok Masyarakat Pedesaan, Anggota DPR RI Rachmat Hidayat Salurkan Bantuan Sosial Rp 4,9 Miliar di Lombok Timur

Tiga bidang besar menjadi arena utama: agama, seni, dan riset. Di bidang agama, mahasiswa menelusuri persoalan kemanusiaan melalui perspektif tafsir, hadis, akidah-filsafat, dan tasawuf psikoterapi. Bidang seni menghadirkan ekspresi spiritual melalui kaligrafi, puisi religi, poster, hingga musik Islami modern. Sementara bidang riset menggali solusi atas problem kemanusiaan abad 21 dengan pendekatan keilmuan multidisipliner.

Menariknya, INISCOM bukan sekadar ajang adu karya, tapi juga tempat tumbuhnya kolaborasi dan pembelajaran lintas bangsa. Mahasiswa Indonesia dan luar negeri saling mengukur kemampuan, memperkaya wawasan, dan menumbuhkan semangat kompetitif yang sehat. Dari situ lahir refleksi: dalam beberapa cabang, mahasiswa Indonesia tampil unggul, sementara di cabang lain, mahasiswa asing lebih menonjol mencerminkan keseimbangan dan keberagaman kualitas pendidikan tinggi Islam dunia.

Dari sisi teknis, panitia memastikan standar internasional berlaku penuh. Dewan juri dipilih secara proporsional dari seluruh anggota konsorsium, dengan tiga juri untuk setiap cabang lomba agar penilaian lebih objektif, sportif, dan kredibel. Panduan teknis disusun bersama, disosialisasikan kepada juri, dan penilaian dilakukan secara transparan. Proses rekapitulasi nilai diawasi langsung oleh panitia dan juri untuk menjaga integritas hasil akhir.

Kehadiran INISCOM juga menjadi jawaban atas kekosongan event nasional di bawah Direktorat Pendidikan Tinggi Islam. Setelah Pesona 2022 dan Oase 2023, belum ada ajang lanjutan di 2024–2025. Di tengah kekosongan itu, UIN Sunan Ampel Surabaya menghadirkan terobosan besar: kompetisi internasional pertama yang menggabungkan nilai spiritualitas, akademik, dan kreativitas global.

Tak hanya para dosen dan dekan, kolaborasi juga melibatkan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya yang turut menjadi bagian penting dalam kepanitiaan. Ketua DEMA, Dhafa, menuturkan:

Baca Juga :  Syamsul Luthfi-Abdul Wahid Akan Berikan Perhatian Khusus Bagi Anak Yatim Piatu

“Kami sebagai DEMA benar-benar merasakan atmosfer yang berbeda ketika menjadi panitia event berskala nasional bahkan internasional. INISCOM ini menarik dan menantang, tapi membutuhkan persiapan yang matang. Tantangan terbesar kami adalah menjawab berbagai pertanyaan peserta dari beragam latar belakang. Kami harus benar-benar memahami teknis lomba agar bisa melayani mereka dengan baik.”

Dhafa juga menambahkan,

menguji kredibilitas. Ada banyak hal baru yang kami pelajari. Bahkan kami sebagai panitia mendapatkan banyak insight baru, apalagi para peserta. Kesan saya terhadap INISCOM sangat luar biasa. Pesan saya, acara sebesar ini idealnya dipersiapkan minimal tiga bulan sebelumnya. Karena, seperti pepatah: Barangsiapa yang tahu jauhnya perjalanan, ia akan bersiap-siap.

Ucapan Dhafa menggambarkan semangat dan tanggung jawab generasi muda yang tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga pelaku sejarah. Keterlibatan mahasiswa dalam skala internasional ini menegaskan bahwa INISCOM bukan hanya ajang kompetisi, melainkan ruang pembelajaran kolektif bagi seluruh civitas akademika.

Dengan semangat kolaborasi lintas negara, sportivitas, dan integrasi nilai spiritual, kearifan lokal, serta teknologi global, INISCOM 2025 menjadi tonggak baru dalam sejarah pendidikan tinggi Islam. Dari Surabaya, gema INISCOM bergema ke dunia, membawa pesan kuat: kepemimpinan sejati adalah tentang dampak dan kesinambungan lintas generasi.(ds3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here