Home Lombok Timur IAIH Pancor Gagas Dialog Publik: Maulana Syaikh Ditegaskan Sebagai Figur Pemersatu Identitas...

IAIH Pancor Gagas Dialog Publik: Maulana Syaikh Ditegaskan Sebagai Figur Pemersatu Identitas Islam-Sasak

184
0
Identitas Suku Sasak di Nusa Tenggara Barat (NTB) ditegaskan berakar kuat pada nilai-nilai keislaman. Penegasan ini mengemuka dalam dialog publik bertajuk "Islam, Kyai Hamzanwadi dan Identitas Sasak" yang digelar oleh Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor di Rupatama I Kantor Bupati Lombok Timur, Sabtu (15/11).

Penulis: Buati Sarmi 

Editor: Mustaan ​​Suardi 

Lombok Timur – Diswara.com. Identitas Suku Sasak di Nusa Tenggara Barat (NTB) ditegaskan dihapuskan dengan kuat pada nilai-nilai keislaman. Penegasan ini mengemuka dalam dialog publik bertajuk “Islam, Kyai Hamzanwadi dan Identitas Sasak” yang digelar oleh Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor di Rupatama I Kantor Bupati Lombok Timur, Sabtu (15/11).

 

Kegiatan ini secara eksplisit menempatkan TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid (Maulana Syaikh) sebagai tokoh sentral yang berhasil mempersatukan nilai-nilai Islam dan budaya lokal Sasak.

Acara dibuka secara resmi oleh perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Lombok Timur, Agus Ilham Haliq, SH, Kabid Pengkajian Masalah Strategi dan Penanganan Konflik.

Dalam berbagai hal, ia menekankan pentingnya menjaga keutuhan dan persatuan bangsa.

”Jadilah pahlawan di bidang masing-masing. Tetap jaga persatuan, jangan terpecah belah, karena persatuan adalah kekuatan bangsa ini,” tegas Agus di hadapan peserta yang terdiri dari pemahaman, pencitraan, perwakilan pemerintah daerah, mahasiswa BEM se-Lombok Timur, dan rekan-rekan Organisasi Kepemudaan (OKP).

Sesi dialog utama menghadirkan sejumlah pemateri. Abdul Hadi, Ph.D. Cand., memaparkan bahwa Maulana Syaikh merupakan sosok yang paling tepat untuk dijadikan tokoh pemimpin masyarakat Sasak, yang secara historis dikenal tidak memperkenalkan satu pemimpin tunggal.

Pandangan ini diperkuat oleh pemateri kedua, Prof. Dr. H. Khirjan Nahdi, M.Hum. yang menilai perjuangan pendiri Nahdlatul Wathan (NW) itu bersifat holistik, yakni “memperjuangkan agama, bangsa, dan negara melalui instrumen organisasi masyarakat.”

Namun, Prof. Khirjan juga memberikan kritik keras. Ia mendorong peserta agar tidak hanya berhenti pada kebanggaan simbolik terhadap pahlawan.

”Kita begitu setuju dengan Hamzanwadi, namun pertanyaannya: apa yang sudah kita buat?” cetusnya, sekaligus meminta mahasiswa dan generasi muda aktif tentang menulis Maulana Syaikh agar kiprahnya dikenal luas oleh masyarakat.

Baca Juga :  Tim Evaluator Kemendagri Puas Dengan Kinerja Triwulan II Kepemimpinan Pj. Bupati Juaini Taofik

Sementara itu, pemateri lainnya, Lalu Muhammad Ariadi, MA.HK., menutup sesinya dengan mengajak seluruh hadirin untuk meneladani pesan utama Maulana Syaikh, yaitu berislam dengan baik dan benar.

Dari sisi kampus, Ketua BEM IAIH Pancor, Saefullah, menyoroti relevansi pemikiran Kiai Hamzanwadi sebagai tokoh pembaharu yang berhasil memadukan ajaran Islam dan budaya Sasak. Menurutnya, pemikiran ini membentuk masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kesadaran kebangsaan yang tinggi.

Saefullah juga mengingatkan bahwa generasi muda saat ini sedang menghadapi tantangan berat, yaitu “perang melawan lunturnya moral, hilangnya karakter, dan melemahnya identitas.”

Menguatkan hal tersebut, Wakil Rektor III IAIH Pancor, Dr. H. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd., mengajak peserta meneladani perjuangan dua Pahlawan Nasional asal NTB, yakni Maulana Syaikh dan Sultan Muhammad Salahuddin, sebagai motor penguatan identitas dan persatuan.

Dialog publik ini diharapkan dapat menjadi fondasi kokoh bagi penguatan pembangunan Lombok Timur, NTB, dan Indonesia, melalui integrasi nilai perjuangan pahlawan, ajaran Islam yang mencerahkan, dan identitas budaya Sasak yang tertanam kuat pada tradisi keislaman.(ds2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here