Penulis : Buati Sarmi
Editor : Mustaan Suardi
Lombok Timur – Ditaswara.com. Salah satu agenda kunjungan Calon Presiden (Capres) Ganjar Pranowo yang diusung oleh PDIP adalah berziarah ke makam pahlawan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid di Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahad (18/6).
Pada kunjungannya, Ganjar didampingi oleh Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi yang sekaligus cucu kandung pahlawan nasional itu. Di sela kunjungannya ke makam pahlawan, Ganjar menyempatkan diri bertatap muka dengan para santri di Yayasan Ponpes NWDI yang merupakan ponpes yang didirikan langsung Maulana Syaikh.
Pada momen itu, Ganjar juga sedikit menyinggung tentang perkawinan anak di Lombok Timur, dimana sebelumnya ia mendengar curhatan salah satu santri Nurhalimah (22) asal Sulawesi tengah yang sempat tidak dibolehkan mondok ke Lombok dengan alasan, nanti akan menikah dini. “Waduh kok alasannya nikah dini, ini coba pak kiyai luruskan nanti niatnya,” ucapnya di hadapan para kiyai yang hadir.
Ganjar pun mengapresiasi santri yang rela jauh meninggalkan daerahnya untuk menuntut ilmu. Dikatakan Ganjar bahwa apa yang dilakukan Halimah itu merupakan contoh sebuah keyakinan, di mana ada anak perempuan ingin mondok datang dari Sulawesi Tengah ke Yayasan Ponpes NWDI, Pancor, Lombok Timur. “Saya senang ketika semua perempuan muda di indonesia semua menuntut ilmu,” tuturnya.
Lebih jauh dikatakan Ganjar, bahwa bangunan yang dibangun Maulana Syaikh di Lombok Timur ini adalah salah satu bentuk dari pencapaian tertinggi pendidikan untuk perempuan pada masanya. Ganjar pun menceritakan kilas balik berdirinya Ponpes yang dibangun pertama kali di tahun 1943 itu.
“Saya bangga sekali berdiri di sini, di ponpes yang didirikan tahun 1943 oleh TGKH Zainuddin Abdul Majid untuk perempuan,” katanya.
Selain itu, Ganjar menegaskan bahwa pihaknya juga telah berbicara dengan kepala BKKBN agar konsen mengatasi persoalan nikah dini, karena persoalan yang akan dihadapi dari pernikahan dini sangatlah banyak. Ganjar pun menekankan agar anak terlebih dahulu harus mengutamakan pendidikan.
“Karena begini, ilmu yang dituntut pasti akan jadi amal yang baik, dengan begitu juga kita bisa mencintai diri dan pasti membanggakan, bukan hanya orang tua, orang terdekat, tapi juga bangsa dan agama,” katanya.
“juga seluruh ilmu yang kita peroleh itu amal jariahnya tidak selesai-selesai,” demikiannya.(aty)








