Lalu Supratman Sang Pendekar Sampah.
Ketika mengawali untuk mengajak masyarakat agar jangan membuang sampah di sembarang tempat terlebih di sungai atau parit yang ada di tengah perkampungan,tidak ada yang peduli.Ahirnya dengan tanpa rasa malu mulailah Lalu Supratman memungut semua jenis sampah yang di temukan di sungai,selokan,di jalan kampung bahkan di halaman rumah warga. Hal ini semata-mata menggugah warganya untuk peduli terhdap kebersihan lingkungannya,berikut laporannya.
Mustaan Suardi
Kendatipun menjabat sebagai Kepala Wilayah (Kawil) Lauk Dalam Desa Lendang Nangka Kecamatan Masbagik bukan halangan untuk memberikan contoh kepada masyarakat, walaupun itu terkadang di anggap sebagai sebuah pekerjaan kotor dan menjijikan. Baginya untuk menggugah kesadaran masyarakat harus di berikan contoh dan motivasi yang kuat.
Miq Suprat demikian nama panggilan akrabnya,sejak dari masih muda sudah terbiasa menerapkan pola hidup bersih di lingkungannya. Saat melakukan penanganan dan sekaligus melakukan pemilahan sampah di lakukan sendiri tanpa di bantu oleh siapapun. Selama kurang lebih satu tahun dia bekerja sendiri untuk sampah ini. Warga yang ada di wilayah Lauk Dalam ahirnya lama-lama menjadi malu sendiri melihat kepala wilayahnya yang begitu peduli dengan sampah ini. Selanjutnya sebagai Kepala Wilayah Miq Suprat mengajak warganya yang sadar sampah untuk ikut program sedekah sampah yaitu sekedar mengeluarkan uang iuran agar sampah-sampah yang ada di warga dapat tertangani dengan baik dan membawanya ke TPS. Walaupun pada awalnya tidak semua warga yang mau mengeluarkan iuran, tetapi ini tidak menjadi halangan, sampah harus tetap di tangani dengan baik sehingga kebersihan lingkungan baik dari rumah sampai perkampungan dan desa betul –betul bersih dari sampah. Ahirnya model iuran ini di rubah dengan secangkir beras,karena terkesan mengeluarkan uang iuran itu agak berat.Setiap bulan warga yang ada dalam kampung mengeluarkan secangkir beras dengan jaminan sampahnya akan di kelola oleh Kawilnya sendiri.

Seiring waktu apa yang di lakukan oleh Miq Suprat ini ahirnya mampu meluluhlantahkan cara pandang masyarakatnya yang selama bertahun-tahun masih kurang peduli terhadap kebersihan lingkungannya. Proses pemilahan sampah sudah mulai dilakukan di tempat tinggalnya,sampah plastik dan sampah rumah tangga di pisah.Keberadaan sampah anorganik atau sampah plastik cukup banyak,setelah terkumpul cukup banyak dan di isi kedalam wadah seperti karung,begitu sudah terkumpul banyak di jual dan hasilnya juga di pergunakan untuk operasional penanganan sampah seperti memberikan insentif bagi masyarakat yang terlibat.sementara sampah organik di kelola dan dan di proses menjadi pupuk organik.
Saat pertama kali mengelola sampah ini Miq Suprat sempat kebingungan kemana sampah ini akan di bawa,sementara TPS di Desa Lendang nangka belum tersedia saat itu.Ahirnya pihak pemerintah Desa Lendang Nangka ikut tergugah dengan semangat Miq Suprat yang begitu peduli dengan sampah dan menyediakan lahan untuk sebagai tempat pembuangan sampah (sampah (TPS) . Adanya TPS 3R Lestari ini menjadi tempat aktivitas pemilihan semua jenis sampah. Saat sekarang sudah ada 3 unit mesin pengolahan sampah dan dari TPS 3R Lestari ini mampu menghasilkan 5 ton pupuk organik dari sampah.Pupuk organik ini nantinya di jual kepada para petani dengan harga 20 ribu rupiah per karung ,sehingga dalam hitungan perbulannya dapat menghasilkan uang sebesar 30 juta rupiah.
“Sampah merupakan emas hitam karena mampu menghasilkan uang dan ini yang menjadi biaya untuk operasional para pekerja yang ada di TPS dan operasional angkutan sampah,” katanya dengan nada ceria.
Sejak adanya TPS 3R ini,masalah sampah yang ada di Desa Lendang Nangka 80 persen sudah dapat di tangani dengan baik,sedangkan sisanya yang 20 persen adalah sampah yang sulit di daur ulang karena belum tersedianya fasilitas pendukung.(bersambung).








