Penulis : Buati Sarmi
Editor : Mustaan Suardi
Lombok Timur.Ditaswara.com. Selain kebiasaan itikaf di masjid atau memperbanyak ibadah pada 10 hari terakhir Bulan Suci Ramadhan, ternyata ada hal lain juga yang di lakukan masyarakat yang sudah menjadi budaya Lombok Timur (Lotim) atau suku sasak pada umumnya.
Seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Moyot, Kecamatan Sakra, Lotim khusunya bagi para kaum hawa, dimana pada 10 hari terakhir Bulan Suci Ramadhan mereka bukan hanya itikaf di masjid, namun mereka juga mengisi waktu luang mereka dengan membuat jajan khas sasak yang sering di sebut dengan jajan lebaran.
Nurkanah salah satu dari banyaknya kaum hawa yang membuat jajan lebaran mengatakan itu sudah menjadi tradisi setiap tahunnya bagi masyarakat, dimana mulai dari 10 hari terakhir Bulan Suci Ramadhan, ia selalu membuat jajan lebaran dengan berbagai jenis.
“Setiap tahun memang masyarakat pasti membuat jajan lebaran, mulai dari tempeyek, keciput, kuping gajah, jaja bawang, dan jenis-jenis yang lain,” katanya saat di temui di rumahnya pada Sabtu, (15/4).
Menanggapi hal tersebut, Lalu Mustiarep seorang budayawan asal Desa Sakra membenarkan bahwa yang dilakukan masyarakat untuk membuat jajan lebaran merupakan tradisi yang di wariskan oleh nenek moyang masyarakat suku sasak.
“Membuat jajan tradisional kemenag menjadi tradisi kita dari dulu, bahkan dulu para laki-laki ada yang menang pohon untuk persiapan pengapiannya, dan ibu-ibu menyiapkan bahan-bahannya,” jelasnya
Untuk jenis jajan sendiri, ia mengatakan jajan jenis keciput, poteng, dan jaja tujak merupakan jajanan yang pasti dibuat oleh masyarakat, setelah itu baru jenis jajan yang lain seperti tempeyek, kuping gajah dan jenis yang lain.
“Namun selain persiapan jajan, masyarakat juga tidak lupa menyiapkan baju atau celana baru untuk dipakai di hari raya, dan itu juga menjadi tradisi masyarakat kita,”tandasnya.(aty).








