
Penulis: Redaksi
Lombok Utara, – Diswara. com . Deki Zulkarnaen, putra asli Lombok Utara terpilih sebagai salah satu dari dua delegasi Indonesia yang akan berpartisipasi dalam Konferensi Internasional Future Leader Assembly (FLA) Indonesia 2025, yang diadakan di Bali 11-14 April. Konferensi Kepemudaan ini diselenggarakan oleh Ecovay-Global Outreach, sebuah lembaga internasional berbasis di Inggris.
FLA adalah sebuah konferensi global yang mempertemukan para pemuda terpilih dari berbagai negara untuk membahas ide, kolaborasi, dan solusi terhadap isu-isu global dengan pendekatan pendakian (keberlanjutan). Program ini digagas oleh Ecovay-Global Outreach, sebuah lembaga asal Inggris yang sudah lama peduli pada pengembangan kapasitas pemuda dan kerja-kerja sosial lintas negara.
Tahun ini, tuan Indonesia menjadi rumah melalui penyelenggaraan konferensi di Bali, dan Deki menjadi salah satu dari dua perwakilan Indonesia yang berhasil lolos seleksi dan meraih pembiayaan penuh (full funded) untuk hadir sebagai delegasi Internasional.
“Waktu awal daftar, saya hanya berharap dapat kesempatan belajar dan bertemu banyak orang hebat. Bahkan saya sempat berpikir, kalaupun hanya dapat pendanaan sebagian, itu pun sudah cukup. Tapi ternyata, saya justru dipilih sebagai delegasi dengan pendanaan penuh. Dari Indonesia ada dua yang terpilih,” cerita Deki yang juga seorang jurnalis dan tutor bahasa ini.
Namun, apa yang membuat perjalanan Deki istimewa bukan sekadar keberhasilannya lolos seleksi. Tapi misi yang ia bawa: mengangkat suara komunitasnya, memperkenalkan Lombok, dan menyuarakan isu-isu yang selama ini nyaris tak terdengar di forum global.
Sebagai putra daerah yang tumbuh besar di tengah geliat pariwisata dan komunitas yang majemuk bersama tantangannya, Deki membawakan topik Literasi Media dan Digital, serta isu-isu seputar peran agen pariwisata lokal di Lombok. Baginya, di era serba digital seperti sekarang, kemampuan masyarakat — khususnya pemuda — dalam memilah informasi, membangun narasi positif, dan mempromosikan daerahnya secara kreatif, adalah hal yang sangat krusial.
“Selama ini, banyak potensi daerah yang tidak terekspos karena kurangnya pemahaman tentang media digital. Bahkan agen-agen pariwisata kita pun banyak yang belum melek teknologi, padahal itu kunci untuk memperluas jangkauan pasar wisata kita,” jelasnya.
Dalam konferensi tersebut, Deki tidak hanya menyampaikan ide-idenya, tetapi juga bertemu dengan pemuda-pemuda luar biasa dari 19 negara lainnya, seperti Armenia, Jerman, Kamboja, Vietnam, Thailand, Afrika Selatan, Gambia, Ghana, Sudan, Malaysia, Pakistan, Selandia Baru, India, Filipina, dan lainnya. Mereka datang dengan latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari pegiat lingkungan, pengembang teknologi, aktivis pendidikan, hingga penggerak budaya. Di tengah perbedaan itu, Deki menemukan satu benang merah: semangat untuk membuat dunia lebih baik, dimulai dari komunitas masing-masing.
Lebih dari sekedar berbagi gagasan, FLA menjadi ruang pertemuan budaya, kolaborasi lintas batas, dan terutama, tempat bagi para pemuda untuk saling menginspirasi dan saling belajar. Deki mengaku, setiap diskusi yang ia ikuti membuka mata lebih lebar terhadap berbagai tantangan global dan bagaimana peran pemuda sangat vital dalam menjawabnya.
Yang berjanji, dalam setiap sesi presentasinya, Deki selalu menyelipkan kisah tentang Lombok — bukan hanya pantainya yang memesona atau Gunung Rinjani yang megah, namun juga kekayaan budaya, kekuatan komunitas, dan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat olehnya.
“Saya ingin dunia tahu bahwa Lombok bukan hanya destinasi wisata. Dibalik keindahan alamnya, ada pemuda-pemuda kreatif, masyarakat tangguh, dan cerita-cerita inspiratif yang layak dikenal dunia,” katanya.
Majelis Pemimpin Masa Depan ini diadakan setiap tahun. FLA selanjutnya akan diselenggarakan kembali di Maroko.
Perjalanan Deki adalah bukti bahwa pemuda dari daerah pun bisa mendunia, asalkan punya semangat, visi, dan keberanian untuk mencoba. Di tengah arus globalisasi, ia berdiri sebagai simbol harapan — bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari sudut kecil dunia yang tak banyak dilirik. (merah)





