Home Berita Pemerintah Lombok Timur Luncurkan Program Makanan Bergizi di Selong, Sasar Ibu Hamil,...

Pemerintah Lombok Timur Luncurkan Program Makanan Bergizi di Selong, Sasar Ibu Hamil, Nifas, dan Batuta

494
0
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali menunjukkan komitmennya dalam menanggulangi masalah stunting. Program Makanan Bergizi (MBG) kini resmi diluncurkan di Kecamatan Selong, tepatnya di Lendang Bedurik.

Penulis: Buati Sarmi

Editor: Redaksi

Lombok Timur – Ditaswara.com. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali menunjukkan komitmennya dalam menanggulangi masalah stunting. Program Makanan Bergizi (MBG) kini resmi diluncurkan di Kecamatan Selong, tepatnya di Lendang Bedurik, setelah sukses digelar perdana di Kecamatan Aikmel. Program ini menyasar tiga kelompok sasaran utama yakni, Ibu Hamil, Ibu Nifas serta Menyusui dan Balita Dua Tahun (Batuta).

Peluncuran di Selong ini menjadi bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap peningkatan gizi masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan yang memegang peran krusial dalam tumbuh kembang anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur, H. Ahmat, menjelaskan bahwa program MBG ditargetkan menjangkau sekitar 300 penerima manfaat di setiap dapur penyaluran. Setiap harinya, mereka akan menerima paket makanan bergizi lengkap yang terdiri dari nasi, lauk daging, dan buah.

”Namun, terdapat penyesuaian menu khusus bagi kelompok Batuta. Mengingat keterbatasan kemampuan mengunyah pada anak usia dini, menu daging untuk mereka diganti dengan makanan alternatif yang lebih ramah anak, seperti naget ayam yang tetap mengandung protein hewani,” kata H. Ahmat pada Selasa (10/6).

H. Ahmat menambahkan bahwa program ini bukan sekadar pembagian makanan, melainkan bagian dari upaya besar pemerintah daerah dalam pencegahan stunting sejak dini. Stunting, sebagai salah satu masalah kesehatan prioritas nasional, tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif jangka panjang.

Meskipun dicanangkan secara serentak, sistem pembagian MBG disesuaikan dengan kondisi dan strategi masing-masing wilayah, tergantung dari kesiapan serta mekanisme yang diterapkan oleh petugas lapangan setempat. ”Ada wilayah yang memilih sistem pembagian langsung ke rumah, sementara yang lain menyalurkan melalui posyandu atau dapur sehat,” terangnya.

Baca Juga :  Upaya Turunkan Angka Stunting, DP3AKB Lotim Ubah Strategi Penanganan Untuk Hasil Optimal Lombok Timur - Ditaswara.com. Dalam rangka upaya penurunan angka stunting, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur (Lotim) berupaya dengan mengubah strategi yang lebih intensif dan terukur. Dilakukannya strategi perubahan adalah untuk mencapai hasil optimal setelah hasil audit menunjukkan bahwa pendampingan yang tidak berkesinambungan menjadi salah satu faktor lambatnya penurunan angka stunting. ”Penurunan angka stunting dari tahun 2022 ke 2023 hanya 0,1 persen, dari 21,7 persen menjadi 21,6 persen. Ini menunjukkan bahwa pembinaan dan pendampingan yang dilakukan belum optimal,” ucap Kadis DP3AKB Lombok Timur, H. Ahmat dalam kegiatan Gerakan Nasional Tingkatkan Integrasi (GENTING) di Desa Kerongkong, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, Kamis (27/2). Kementerian Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kini mengubah pendekatan dengan mengintensifkan peran orang tua asuh. Pendampingan tidak lagi bersifat sporadis, melainkan berkelanjutan selama dua tahun, dengan fokus pada intervensi nutrisi dan non-nutrisi. ”Intervensi nutrisi membutuhkan anggaran sekitar Rp.15 ribu per hari. Oleh karena itu, bantuan diharapkan diberikan selama dua tahun penuh untuk memastikan kecukupan gizi anak,” jelas H. Ahmat. Kendati demikian, durasi pendampingan oleh orang tua asuh tidak harus selalu dua tahun penuh. Tim pendamping keluarga (TPK) di lapangan akan memastikan keberlanjutan pendampingan, bahkan jika orang tua asuh hanya mampu memberikan bantuan dalam waktu singkat. ”Jika seorang orang tua asuh hanya mampu mendampingi selama tiga bulan, kami akan memastikan ada orang tua asuh lain yang melanjutkan pendampingan. Kami akan terus memantau hingga anak tersebut tidak lagi berstatus stunting,” katanya. Disebutkan dengan strategi ini, pemerintah menargetkan penurunan angka stunting secara signifikan. Secara nasional, target penurunan adalah satu juta kasus, sementara NTB sendiri menargetkan pendampingan terhadap 38.126 bayi stunting. ”Kami memiliki data lengkap by name by address (BNBA) dari bayi-bayi yang membutuhkan pendampingan. Jika ada pihak, termasuk media, yang ingin menjadi orang tua asuh, kami akan berikan datanya,” imbuhnya. ”Perkembangan anak-anak yang didampingi akan terus dipantau, termasuk peningkatan berat badan dan tinggi badan. Evaluasi berkala akan dilakukan untuk memastikan efektivitas strategi ini dalam menekan kasus stunting,” pungkasnya.(ds2)

Dengan peluncuran MBG di Kecamatan Selong ini, H. Ahmat berharap program ini dapat menjadi model implementasi yang efektif, dengan tetap memperhatikan kebutuhan lokal serta koordinasi lintas sektor. “Program ini bukan sekadar distribusi makanan, tapi bagian dari intervensi gizi sensitif yang terintegrasi,” tegasnya.

Pemerintah daerah juga mengajak seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kader posyandu, tokoh masyarakat, hingga keluarga penerima manfaat, untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung kelancaran program ini.

”Dengan dukungan bersama, diharapkan angka stunting di Lombok Timur dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan,” pungkasnya.(ds2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here