Adv

KILAS BALIK GELARAN ALUNAN BUDAYA PRINGGASELA

-

 

Oleh : Tim kreator Panitia Alunan Budaya Desa ke 6.

Event Alunan Budaya Desa di Kecamatan Pringgasela adalah sebuah langkah cerdas yang melingkup keberpihakan produk zaman yang di konsep untuk melestarikan hasil karya budaya anak bangsa yang ada di wilayah destinasi budaya kecamatan Pringgasela.

Adalah sekelompok anak muda Pringgasela yang punya komitmen tinggi pada budaya dan kearipan lokal , kembali menggelar event besar Alunan Budaya Desa yang ke-6 Kecamatan Pringasela setelah istirahat selama 2 tahun karena bencana alam gempa bumi dan wabah virus covid-19 melanda. Alunan Budaya Desa Kecamatan Pringgasela telah melewati 5 kali pagelaran semenjak tahun 2015, dengan tema dan konsep yang berbeda-beda setiap tahunnya.
Pada pagelaran pertama tahun 2015, dinamai dengan Alunan Budaya Desa I Kecamatan Pringgasela, pemuda selaku panitia pelaksana mengusung tema “Culture Collaboration”. Dimana potensi budaya dan pariwisata yang ada di Kecamatan Pringgasela ditampilkan dalam event yang pertama tersebut, seperti Tenun Pringgasela, Rudat Aik Dewa, Slober Timba Nuh, dan sebagainya. Kemudian pada pagelaran selajutnya di tahun 2016, Alunan Budaya Desa II Kecamatan Pringgasela, mengambil tema ”Memperkenalkan Desa Wisata”. Dengan menampilkan Demonstrasi Tenun dan Pameran Ekonomi Kreatif, memberikan stimulus yang cukup besar bagi para pengrajin tenun. Pameran musik tradisional juga memberikan andil yang cukup besar untuk mendorong minat para pendatang untuk mendatangi desa-desa yang ada di Kecamatan Pringgasela.
Pada tahun 2017, para pemuda melanjutkan pagelarannya untuk yang ketiga kalinya sebagai bentuk konsistensinya untuk menjaga budaya yang ada di Kecamatan Pringgasela. Pada pagelaran Alunan Budaya Desa III Kecamatan Pringgasela, para pemuda menciptakan sejarah yang takkan pernah terlupakan di benak masyarakat Pringgasela. Para pengrajin tenun di tampilkan di Tugu Mopra Pringgasela (titik pusat yang menjadi ruh sejarah di tanah Pringgasela) untuk melakukan atraksi menenun sebanyak 1.350 penenun dengan tema “Warna dan Irama Tenun” untuk mendapatkan rekor muri, yang saat itu suara hentakan tenun menggaung di atas langit Pringgasela. Meskipun tidak berhasil mendapatkan rekor muri, namun para pemuda tetap berjaya di hati masyarakat.
Lagi-lagi, para pemuda Pringgasela menunjukkan keseriusannya dalam menjaga dan melestarikan budaya sebagai identitas Pringgasela. Pada Alunan Budaya Desa IV Kecamatan Pringasela, mencoba beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui tema “An Elaborate Fashion Show”, yaitu menampilkan inovasi desain-desain fashion dengan khas kain tenun Pringgasela di tengah-tengah persawahan Batu Tambun dengan backgroun view Gunung Rinjani. Kemudian pada Alunan Budaya Desa V Kecamatan Pringgasela, para pemuda mencoba mengembalikan sejarah puluahan bahkan ratusan tahun silam dengan tema “Boteng Tunggul” yang merupakan salah satu tradisi cri khas masyarakat Pringgasela yang memiliki nilai-nilai budaya dan unsur sakral yang sangat tinggi. Yang pada saat itu, paniti pelaksana meampilkan proses pendirian Boteng Tunggul dalam bentuk replika yang semirip mungkin.
Dalam lima tahun berturut-turut, pemuda pringgasela telah menunjukkan kseriusan dan konsistensinya sebagai bentuk peduli terhadap budaya. Oleh sebab itu, besar harapan mereka event Alunan Budaya Desa bisa masuk pada kalender event, sehingga tak harus mengemis setiap tahunnya mencari dukungan, seperti yang dibilang oleh sebagian orang.
Pada tahun ini, Alunan Budaya Desa VI Kecamatan Pringgasela mencoba mencitakan gebrakan dan dobrakan baru dengan menampilkan “Karnaval Tenun Pringgasela” yang sekaligus menjadi tema event tahun ini. Pada event akbar tahun ini panitia pelaksanan berharap, melalui Karnaval Tenun Pringasela dapat meningkatkan branding kain tenun Pringgasela dalam dunia kreatif. Bahwa kain tenun pringgasela tidak hanya sebatas kain, namun ia bisa di modif dengan sekreatif mungkin. Juga, kain tenun dapat bersaing dalam dunia ekonomi kreatif.
Tidak hanya Karnaval Tenun, namun juga banyak sekali rangkaian yang ditampilkan pada Alunan Budaya Desa yang ke-6 ini, Seperti Bazar, Malam Pringgasela Bersholawat, Malam Pentas Budaya. Pada acara Bazar yang akan diselenggarakan mulai tanggal 28-31 Juli 2022 dari jam 16.00-22.00 WITA, panitia menyajikan Bazar Kriya dan Food untuk membantu UMKM yang ada di Kecamatan Pringgasela, minimal memperkenalkan ke halayak publik.
Pada acara Malam Pringgasela Bersholawat yang merupakan sajian pertama dan perdana dalam event Alunan Budaya Desa Kecamatan Pringgasela, panaitia akan menyelenggarakan sholawat akbar bersama masyarkat Pringgasela di Tugu Mopra Pringgasela pada malam Jumat, 28 Juli 2022 seusai sholat Maghrib. Mengundang tokoh-tokoh Agama dan tokoh masyarakat duduk bersila bersama seluruh masyarkat Pringgasela di tengah-tengah\titiik pusat Pringgasela, untuk menjalin dan meninggkatka tali persaudaraan, bahwa Pringgasela memiliki rasa persaudaraan yang sangat kuat, termasuk dalam forum spiritual.
Sedang pada malam Pentas Budaya yang akan dilaksanakan pada malam sabtu, 29 Juli 2022, panitia menampilkan atraksi-atraksi tradisional dan seni, dari penampilan musik tadisional hingga pertunjukan seni. Dengan tujuan untuk menghibur sekaligus mengenalkan musik-musik tradisioal.
Acara di buka dengan menampilkan tradisi adat masyarakat pringgasela yang merupakan ciri khas dari masyarakat Pringgasela, yaitu Boteng Tunggu dengan replika pada hari kamis, 28 Juli 2022.

Baca Juga :  Laporan Keuangan BPKAD PROV.NTB Bagian ke 8

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *