Home Seni dan Budaya Closing Pesona Budaya 7 Pengadangan, Bupati Warisin: Metu Telu Simbol Persatuan Utuh...

Closing Pesona Budaya 7 Pengadangan, Bupati Warisin: Metu Telu Simbol Persatuan Utuh Sasak

155
0
Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, turut hadir dan memberikan apresiasi tinggi atas kelestarian acara adat ini. Ia menekankan bahwa acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang penting untuk menjaga nilai moral dan kebersamaan.

Penulis: Buati Sarmi 

Editor: Mustaan Suardi 

Lombok Timur – Ditaswara.com. Gelaran tahunan Pesona Budaya Pengadangan ke-7 di Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, berlangsung meriah meski di tengah guyuran hujan, Rabu (26/11). Ribuan warga tumpah ruah mengikuti rangkaian ritual yang dimaknai sebagai wujud syukur dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Acara adat yang mengangkat tema “Metu Telu” melambangkan penyatuan peran tiga pilar penting seperti tokoh adat, tokoh agama, dan unsur pemerintahan, dalam menjaga harmonisasi dan persatuan masyarakat.

Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, turut hadir dan memberikan apresiasi tinggi atas kelestarian acara adat ini. Ia menekankan bahwa acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang penting untuk menjaga nilai moral dan kebersamaan.

“Komitmen kita adalah menjaga budaya agar tetap lestari, karena budaya adalah penjaga persatuan dan kesatuan,” ujar Bupati, setelah menerima cinderamata berupa sapuk dan kain tenun khas Pengadangan dari tokoh adat setempat.

Bupati Warisin juga mengungkapkan kedekatan emosionalnya dengan desa ini. Ia mengenang masa mudanya yang sering dihabiskan di Pengadangan. “Kalau datang ke Pengadangan ini rasanya seperti pulang ke rumah. Setiap libur saya habiskan di sini dirumah pak Dewan H. Asipudin. Bahkan Selimut dan lauk sayur saya itu khusus dibuatkan,” kenangnya, disambut tepuk tangan warga.

Lebih jauh, Bupati Warisin memaparkan sejumlah program Pemda sebagai wujud komitmen pelayanan kepada masyarakat Lombok Timur, di antaranya:

– Rencana pemasangan 16 ribu lampu jalan pada tahun 2027.

– Penguatan 31 ribu UMKM.

– Alokasi Rp4 miliar untuk bantuan beras kepada masyarakat.

– Pembangunan Sekolah Unggul Garuda dan Sekolah Rakyat.

“Uang yang kita gunakan ini uang rakyat, bukan uang saya. Selama kita komit, pembangunan harus jalan,” pungkasnya, sembari menegaskan bahwa tradisi budaya seperti Metu Telu akan terus mendapat dukungan pemerintah daerah.

Baca Juga :  MONOKROM KEBUDAYAAN DALAM NGAJI BUDAYA 2.

Sementara itu, Kepala Desa Pengadangan, Iskandar, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Bupati dan wakil serta seluruh tamu undangan yang hadir. Ia secara khusus meluruskan makna tema besar acara, Metu Telu.

“Persepsi masyarakat keliru kalau diartikan tiga waktu. Metu Telu, simbol dari tiga tokoh yakni tokoh adat, agama, dan pemerintahan harus bersatu. Artinya persatuan yang utuh,” tegas Iskandar.

Kades Iskandar juga menyinggung perbaikan infrastruktur jalan yang sempat ditunda demi kelancaran acara budaya tersebut. Ia turut menyampaikan sambutan tahun ini menjadi yang terakhir baginya, mengingat masa jabatannya sebagai kepala desa akan segera berakhir.

Acara ditutup dengan pagelaran tarian kolosal Wetu Telu, iringan Gendang Beleq, teatrikal midang (bertamu kerumah gadis), pagelaran seribu dulang, doa bersama dn terakhir makan begibung (bersama).(ds2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here