Penulis : Buati Sarmi
Editor: Mustaan Suardi
Lombok Timur – Ditaswara. com. Bupati Lombok Timur H.M. Sukiman Azmy menghadiri acara tahunan Alunan Budaya Pringgasela ke-7 sekaligus menjadi acara penutup di akhir masa jabatannya, berlangsung di lapangan umum Mopra Pringgasela, Senin sore (25/9).
Sukiman, pada kesempatan itu mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Pringgasela. Selain itu, Bupati juga memaparkan pagelaran budaya ini menjadi kado manis di akhir masa jabatannya itu. “Untuk Alunan Budaya ini hanya ada satu kata, keren. Dari 239 desa di Kabupaten Lombok Timur ini Pringgasela yang memberikan kado manis untuk terakhir saya bertugas sebagai bupati,” ucapnya.
Namun kata dia, bukan berarti desa-desa yang lain itu tidak memberikan perhatian, hanya saja momennya yang pas. Adapun sebagai peninggalan terakhir dan janji terakhir di sisa masa jabatannya itu, kepada masyarakat Pringgasela Sukiman mengamanatkan OPD terkait agar mengkoordinir event tersebut menjadi event nasional di tahun depan.
“Saya sudah pesan sama Pak Taufan Rahmadi untuk memperjuangkan itu bersama dengan dinas terkait,” ujar Sukiman
Sementara itu, Tim Monitoring Evaluasi dan Akselerasi KEK Pariwisata Kemenparekraf, Taufan Rahmadi menyambut positif harapan masyarakat yang ingin menjadikan Alunan Budaya Pringgasela itu menjadi event nasional.
Taufan juga menggarisbawahi dua hal kepada pemerintah daerah yaitu kebijakan dan anggaran. “Kalau serius, harus mendukungnya dengan kebijakan dan anggaran,” Katanya.
Baru setelah itu lanjutnya, kita bersama dengan tim siap akan mengawalnya untuk bisa masuk ke nasional melalui provinsi sampai ke pusat. Tak hanya itu, Taufan menuturkan bahwa dirinya juga melihat potensi besar yang dimiliki oleh Pringgasela, mulai daei Sumber Daya Manusia (SDM) dan juga Sumber Daya Alam (SDM).
“Ini ya sejujurnya, kekuatan Pringgasela itu penenun. Harus benar-benar memiliki kekuatan storytelling, nggak boleh pudar. Kedua, pemuda dan semua stakeholder pariwisata harus kompak,” tuturnya.
Tak hanya dua hal tersebut saja, namun hal yang paling utama saat ini menjadi fondasi kuat Alunan Budaya Pringgasela adalah dukungan dari masyarakatnya. “Itulah kekuatan yang ada di Pringgasela dan telah diwujudkan dalam kegiatan tadi, saya begitu masuk dan melihat performance tadi kan its amazing,” Jelasnya.
Lebih jauh, Taufan menyebutkan bahwa apa yang dilakukan Pringgasela melalui event Alunan Budaya ini bisa juga dicontoh oleh desa lain di Lombok Timur khususnya dan NTB secara umumnya. Namun dia tak menginginkan terjadi sikap copy paste. “Untuk pengembangannya harus ada diferensiasi sehingga desa memiliki ikonnya sendiri-sendiri,” Pungkasnya.(aty)








