
Penulis : Mustaan Suardi ( Pimred Ditaswara. com.)
LABUAN BAJO, http://Ditaswara.com – Jika Sumpah Pemuda 1928 lahir dari tekad pemuda dari berbagai suku untuk menjadi satu, maka semangat yang sama itu hidup kembali di ujung barat Pulau Flores, Rabu (28/10/2026). Di Lapangan Kantor Bupati Manggarai Barat, di bawah langit Labuan Bajo yang terik, ratusan peserta upacara berdiri tegak memperingati 98 Tahun Sumpah Pemuda.
Di antara barisan itu, ada rombongan dengan kekompakan yang berbeda. Mereka adalah Paguyuban Ikatan Keluarga Besar Lombok (IKBAL) Manggarai Barat. Warga perantauan Lombok yang kini mengadu nasib, bekerja, dan berkeluarga di tanah Komodo.
Bagi sebagian orang, kehadiran paguyuban kedaerahan dalam upacara kenegaraan mungkin hanya dianggap sebagai pelengkap. Tapi bagi IKBAL, ini adalah pernyataan sikap.
Ketua IKBAL Manggarai Barat, Suhaili, hadir langsung sejak pagi. Bukan hanya hadir sebagai undangan, tetapi mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan khidmat. Di sampingnya, salah satu anggota terbaik IKBAL, Munir, mendapat kehormatan besar. Ia dipercaya panitia untuk membacakan naskah sakral Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 di hadapan Bupati Manggarai Barat, Wakil Bupati, dan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Di podium, suara Munir lantang membacakan setiap pasal, didengar oleh Dandim 1630/Manggarai Barat, Danlanal Manggarai Barat, Kapolres Manggarai Barat, serta seluruh kepala OPD dan perwakilan organisasi kemasyarakatan se-Manggarai Barat.
Momen itu menjadi simbolik. Seorang warga Lombok, membacakan konstitusi negara, di tanah Manggarai, di hari pemuda Indonesia.
“Ini bukan soal Lombok atau Manggarai. Ini soal Indonesia. Kami di IKBAL diajarkan, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kami tinggal di Manggarai Barat, maka kami punya kewajiban moral untuk ikut menjaga dan membangun daerah ini,” ujar Suhaili usai upacara.
Suhaili menegaskan, keikutsertaan IKBAL bukan pencitraan. Paguyuban yang ia pimpin ingin menunjukkan bahwa organisasi kedaerahan bisa menjadi kekuatan pemersatu, bukan pemecah.
Selama ini, IKBAL dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan silaturahmi antar warga Lombok di perantauan. Namun dalam dua tahun terakhir, IKBAL mulai membuka diri lebih luas, berbaur dalam kegiatan kebangsaan, gotong royong, dan kemasyarakatan yang digelar Pemda Manggarai Barat.
Menurut Suhaili, Labuan Bajo yang kini menjadi destinasi super prioritas nasional adalah rumah kedua bagi ratusan kepala keluarga asal Lombok. Mereka bekerja sebagai pelaku wisata, pedagang, nelayan, hingga ASN. Kerukunan dengan warga lokal adalah kunci keberlangsungan hidup.
“Nilai Sumpah Pemuda itu relevan sekali dengan Labuan Bajo hari ini. Kita berbeda suku, berbeda bahasa, tapi kita satu tujuan: menjadikan Manggarai Barat yang harmonis. Kami warga Lombok ingin menjadi bagian dari harmoni itu,” tambahnya.
Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 tahun ini mengusung semangat persatuan di tengah keberagaman. 98 tahun lalu, para pemuda Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, dan lainnya melebur menjadi satu dengan ikrar Bertumpah Darah Satu, Berbangsa Satu, Berbahasa Satu, Indonesia.
Semangat itulah yang ingin dirawat IKBAL.
Bagi IKBAL, merantau bukan berarti tercerabut dari akar kebangsaan. Justru di perantauan, rasa keindonesiaan itu diuji. Mampukah kita tetap kompak sesama perantau, sekaligus membaur dan menghormati tuan rumah?
Jawabannya, pagi itu di lapangan Kantor Bupati, sudah terlihat. IKBAL berdiri sejajar dengan paguyuban lain, dengan TNI-Polri, dengan pemerintah daerah. Tidak ada sekat.
“Harapan kami sederhana. IKBAL ingin terus diberi ruang untuk berkontribusi. Bukan hanya saat upacara, tapi juga dalam kegiatan sosial, kebencanaan, dan pembangunan. Prinsip kami: Bersatu dalam Silaturahmi, Berkontribusi untuk Negeri,” pungkas Suhaili.
Dari Labuan Bajo, pesan itu dikirim: Sumpah Pemuda belum selesai. Ia terus hidup, dijaga oleh mereka yang merantau jauh dari kampung halaman, namun tetap setia pada janji untuk Indonesia.(ds1)
IKBAL – Bersatu dalam Silaturahmi, Berkontribusi untuk Negeri.




