Home Lombok Timur Bedah Disertasi Sekda Lotim, FJLT Kupas Tuntas Model SIPETAS untuk Tekan Stunting

Bedah Disertasi Sekda Lotim, FJLT Kupas Tuntas Model SIPETAS untuk Tekan Stunting

157
0
Forum Jurnalis Lombok Timur (FJLT) dalam ruang diskusi "Pojok Jurnalis" kali ini, fokus utama tertuju pada pemaparan ilmiah Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik, yang membedah disertasi doktoralnya mengenai penanganan stunting, Selasa malam (6/1).

Penulis: Buati Sarmi 

Editor: Mustaan Suardi 

Lombok Timur – Ditaswara.com. Forum Jurnalis Lombok Timur (FJLT) dalam ruang diskusi “Pojok Jurnalis” kali ini, fokus utama tertuju pada pemaparan ilmiah Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik, yang membedah disertasi doktoralnya mengenai penanganan stunting, Selasa malam (6/1)

Sebelumnya diungkap bahwa disertasi Sekda Juaini ini akan dipaparkan dihadapan dosen pengujinya di Universitas Muhammadiyah Jakarta pada (9/1) mendatang. Maka itu lebih dulu iya mengajak media membedah disertasinya tersebut.

Disertasi bertajuk “Model Implementasi Kebijakan Penurunan Stunting di Kabupaten Lombok Timur, NTB” ini mencuri perhatian karena menawarkan solusi konkret di tengah mandeknya angka penurunan stunting di Bumi Patuh Karya.

Dalam diskusinya, Juaini menyoroti fenomena stagnasi data yang dialami Lombok Timur. Meski anggaran besar telah digelontorkan, Lotim nyatanya masih tertahan di peringkat 9 dari 10 kabupaten/kota di NTB dalam hal penanganan stunting.

Menurutnya, akar masalah bukan pada ketersediaan regulasi, melainkan pada dampak nyata (outcome) di level akar rumput.

“Kita sudah punya regulasi dan anggaran, tapi ada gap besar antara kebijakan di atas kertas dengan perilaku masyarakat di lapangan. Penanganan stunting tidak boleh hanya bersifat musiman atau bergantung pada siklus anggaran tahunan saja,” tegas sosok yang akrab disapa Kak Ofik ini.

Ia menekankan bahwa perjuangan melawan stunting tidak boleh terhenti saat kalender anggaran berakhir di 31 Desember. Menurutnya keberlanjutan adalah kunci utama.

Satu hal yang membuat riset ini berbeda adalah metodologinya. Sekda Juaini melakukan riset partisipatif dengan terjun langsung dan tinggal bersama keluarga berisiko stunting di wilayah Masbagik dan Kembang Kuning.

Dari hasil pengamatan langsung, ia menemukan bahwa hambatan terbesar justru lahir dari stigma dan persepsi sosial yang keliru di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Hari Ke-6 TMMD Desa Loyok Pembangunan RTLH Capai 90 Persen Hingga Pembukaan Akses Jalan Kuburan

“Banyak praktik lama yang kurang tepat masih dijalankan di rumah-rumah. Ternyata ini bukan sekadar masalah ekonomi, tapi soal pendekatan budaya yang selama ini terabaikan,” jelasnya di hadapan para panelis dan jurnalis.

Sebagai jalan keluar, Juaini memperkenalkan model SIPETAS (Sinergi Peran Tokoh Lokal dalam Akselerasi Penurunan Stunting).

Model ini menyempurnakan teori implementasi kebijakan George C. Edward III dengan menambahkan variabel krusial yaitu, Modal Sosial dan Kearifan Lokal.

Melalui SIPETAS, penanganan stunting diharapkan tidak lagi hanya menjadi urusan birokrasi semata, melainkan menjadi gerakan kolektif yang melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat guna mengubah perilaku warga secara persuasif dan berkelanjutan.,(ds2).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here