Home Pendidikan INOVASI BEDENGAN TERBALIK DIPERKENALKAN DI DESA SETILING, SOLUSI PERTANIAN LAHAN KERING

INOVASI BEDENGAN TERBALIK DIPERKENALKAN DI DESA SETILING, SOLUSI PERTANIAN LAHAN KERING

306
0
Inovasi pertanian berbasis efisiensi air mulai diperkenalkan di Desa Setiling, Kecamatan Batukliang Utara. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Senamian dan masyarakat Dusun Gunung Komak mempraktekkan langsung pembuatan Bedengan Terbalik, Senin (4/8/2025).

Penulis: Buati Sarmi

Editor: Mustaan Suardi

Lombok Tengah – Ditaswara.com. Inovasi pertanian berbasis efisiensi air mulai diperkenalkan di Desa Setiling, Kecamatan Batukliang Utara. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Senamian dan masyarakat Dusun Gunung Komak mempraktekkan langsung pembuatan Bedengan Terbalik, Senin (4/8/2025).

Kegiatan ini mendapat pendampingan langsung dari Eli Darmawan, SP, penemu bedengan terbalik. Bedengan Terbalik adalah metode budidaya tanaman yang dirancang untuk mengatasi keterbatasan air di lahan kering. Jika pada bedengan biasa air disiram dari atas, maka pada bedengan terbalik penyiraman dilakukan dari bawah. Sistem ini dibuat dengan meletakkan plastik, pipa, dan media penahan air di bagian dasar bedengan. Air dan pupuk kemudian ditampung di lapisan bawah sehingga dapat langsung diserap oleh akar tanaman.

Dengan cara ini, evaporasi dan pemborosan air dapat ditekan, pupuk lebih efisien, dan kelembaban tanah terjaga lebih lama. Tidak hanya ramah air, bedengan terbalik juga tahan lama. Satu kali pembuatan dapat digunakan hingga 5–6 tahun tanpa perlu sering disiram, cukup sekali dalam dua hingga tiga minggu. Karena itu, teknologi ini dianggap sangat sesuai untuk lahan marginal yang kering dan sulit mendapatkan air.

Eli Darmawan, SP. menjelaskan: “Inovasi Bedengan Terbalik kami sebut sebagai satu inovasi yang memanfaatkan sumber air terbatas untuk menumbuhkan tanaman dengan baik. Sekali dibuat, bedengan bisa bertahan hingga 5–6 tahun dengan penyiraman hanya sekali dua atau tiga minggu,” jelas Eli.

Eli Darmawan menambahkan bahwa inovasi ini bukan hanya pengembangan, melainkan penemuan yang ia gagas sejak 2005 dan mulai diuji coba pada 2021 di Desa Jerowaru, Lombok Timur. “Bukan hanya mengembangkan tapi menemukan. Bedengan terbalik hadir untuk menjawab tantangan lahan kering agar lebih produktif. Prinsip dasarnya adalah penyiraman dilakukan dari bawah melalui drainase pipanisasi, sehingga air dimanfaatkan maksimal,” tegasnya.

Baca Juga :  IKA IAIH Pancor 2025-2028 Resmi Dilantik Dr. TGB. H. Muhammad Zainul Majdi, MA

Inovasi ini sekaligus menjadi langkah nyata mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dengan meningkatkan ketersediaan pangan keluarga, serta SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi) karena mampu menghemat penggunaan air di lahan kering. Selain itu, penerapan bedengan terbalik juga mendorong SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) karena menjadikan lahan marginal tetap produktif tanpa merusak lingkungan.

Sementara itu, Moh. Irfandi, Ketua KKN, menyebut teknologi ini menjadi jawaban nyata atas tantangan lahan kering.

“Menurut saya, bedengan terbalik ini adalah solusi nyata bagi masyarakat Desa Setiling. Bukan hanya praktik, tapi juga model pertanian berkelanjutan yang bisa diterapkan lebih luas,” katanya.

Salah satu anggota KKN, Finka Alyshia, juga menilai inovasi ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat desa. “Awalnya terlihat rumit, tapi manfaatnya luar biasa. Dengan efisiensi air dan ketahanan hingga bertahun-tahun, teknologi ini sangat cocok diterapkan di lahan kering,” ujarnya.

Ungkapan Muhamad Abdul Jabbar yang di setujui oleh, Baiq Dinda Ayu Pebrina, Nasya Fahiya Holkah, Lita Rozida, Nur Wahidah Armini, Azzahra Raudia Ramdhani, Anah Afriyanti Dan Gatam Ibnu Adam.

“Menurut kami, bedengan terbalik tidak hanya menjawab tantangan pertanian di lahan kering, tapi juga menjadi bentuk kreativitas lokal yang bisa mengangkat nama Desa Setiling secara nasional,” ungkap mereka bersama.

Dukungan juga datang dari Kepala Dusun Gunung Komak, Zakaria, yang menyambut baik kehadiran teknologi ini. “Kami masyarakat Dusun Gunung Komak merasa sangat terbantu dengan adanya inovasi ini. Selama ini lahan kering menjadi kendala utama, tapi dengan bedengan terbalik, kami bisa berharap pertanian di desa tetap produktif meski air terbatas. Semoga teknologi ini bisa terus dikembangkan dan dimanfaatkan oleh warga,” ujar Zakaria.

Baca Juga :  Arsy Salsabila Mahasiswi IAIH Pancor Juara 1 Tafsir Al-Qur'an MTQ 2024 Tingkat Provinsi NTB

Finka Alyshia berharap agar setelah KKN berakhir, ”masyarakat tetap melanjutkan praktik bedengan terbalik sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” imbuhnya.

Dengan hadirnya inovasi bedengan terbalik, Desa Setiling diharapkan dapat menjadi pelopor pemanfaatan lahan kering untuk pertanian yang lebih produktif, efisien, dan sejalan dengan pencapaian SDGs.(ds2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here