
Penulis: Buati Sarmi
Editor: Mustaan Suardi
Lombok Timur – Ditaswara.com. Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) bersama Jurnalis Lombok Timur melakukan diskusi Tematik membahas tentang pemberitaan isu sensitif HKSR remaja dengan kacamata yang lebih berpihak pada gender yang berlangsung di Aula DP3AKB Lombok Timur, Kamis (19/6).
Sejak 2022 hingga kini, YGSI memang sudah getol memetakan dan melatih media lokal agar jurnalis lebih paham soal HKSR. Tak hanya itu, YGSI juga berupaya keras menumbuhkan minat jurnalis untuk mau meliput hasil penelitian terkait HKSR remaja, sekaligus mempermudah akses informasi bagi peneliti dan praktisi.
Pada kesempatan kali ini, YGSI berfokus dalam bagaimana menerapkan Gender Transformative Approach (GTA) dalam jurnalisme, terutama saat meliput program-program Power to Youth (PtY).
Haekal dari YGSI menjelaskan, lembaganya punya dua fokus utama yaitu, HKSR dan Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Di NTB, mereka menggarap Lombok Tengah dan Lombok Timur.
”Tujuan kegiatan kami adalah memberikan pemahaman tentang bagaimana pemberitaan yang berbasis gender dan positif, serta tidak menyudutkan gender,” tegas Haekal.
Haekal juga menyoroti evaluasi beberapa pemberitaan. Banyak media yang terburu-buru, justru menyudutkan korban, terutama kasus kekerasan seksual. ”Disinilah kita mengevaluasi diri sendiri melalui pemberitaan yang teman-teman buat,” tambahnya mengingatkan pentingnya koreksi diri.
Senada dengan itu, Koordinator YGSI, Safrudin, menekankan agar jurnalis selalu mempertimbangkan sensitivitas isu HKSR dan KBGS. Prioritaskan sudut pandang korban, bantu korban dapat keadilan, ungkap akar masalah objektif, gali kebutuhannya. Penting juga untuk berempati, hindari pertanyaan klise atau detail kronologis yang bisa membangkitkan trauma korban.
Selain itu, kecermatan memilih narasumber juga krusial. Pilih yang kompeten dan paham HKSR/KBGS, jangan hanya mengandalkan satu sumber (misal, polisi saja). ”Dan yang terpenting lindungi korban. Jangan pernah ungkap identitas korban, keluarga, apalagi informasi spesifik yang mengarah pada terbukanya identitas mereka,” ujarnya.
Terakhir, jurnalis diharapkan menonjolkan cerita baik/positif. Misalnya, kisah anak muda inspiratif, champion di isu HKSR/KBGS, atau korban perundungan yang bisa bangkit dari traumanya. Jangan cuma mengumbar pilu dan tragedi. Ambil sudut human interest, tapi tetap dengan analisis mendalam.
Ketua Forum Jurnalis Lombok Timur (FJLT), Rusliadi, mengapresiasi YGSI. Menurutnya, jarang ada NGO yang peduli pemberitaan berpihak korban. Rusliadi menegaskan, media punya peran krusial membentuk opini publik.
”Apa yang kita tulis, apa yang kita beritakan, akan menjadi kebiasaan masyarakat,” katanya.
Ia mengajak jurnalis terus berupaya membangun pemberitaan yang transformatif dan berpihak pada kemanusiaan, dengan pemahaman gender yang baik dan menghindari stereotip. Perusahaan media juga harus tingkatkan kapasitas jurnalis lewat pelatihan GTA.(ds2)







